Rabu, 11 Juni 2014

Reproduksi pada Tumbuhan

Share makalah ipa tentang reproduksi pada tumbuhan. Semester 3 , kuliah bu Christy ...
A.    Reproduksi Tumbuhan Berbiji
1.      Reproduksi Vegetatif
Reproduksi vegetatif yaitu cara reproduksi tanpa melalui perkawinan (fertilisasi) gamet jantan dan betina. Sifat dari reproduksi vegetatif adalah menghasilkan keturunan yang identik (sifat sama) dengan induknya.
Reproduksi vegetatif dapat terjadi secara :
a.       Alami
Reproduksi yang dilakukan oleh organ vegetatif  tumbuhan tanpa bantuan manusia.
Organ vegetatif yang berperan antara lain :
1) Rhizoma (rimpang/akar tinggal) adalah batang yang menjalar  secara horisontal dalam tanah menyerupai akar. Contoh tumbuhan yang bereproduksi dengan rizoma misalnya bunga tasbih, kunyit, jahe, alang-alang.
2) Stolon (geragih), adalah batang yang menjalar di atas tanah. Jika batang tersebut tertimbun tanah, bagian buku-buku (ruas stolon) akan tumbuh menjadi individu baru. Contoh tumbuhan yang bereproduksi dengan stolon misalnya arbei (stroberi), daun kaki kuda (Centela asiatica).
3) Umbi Lapis (Bulbus) adalah  batang berukuran pendek yang dikelilingi daun berlapis-lapis daun tebal. Tunas umbi lapis tumbuh ke arah samping dari bagian tubuh induk, biasanya dinamakan siung. Jika siung dipisahkan dari induknya, siung tersebut akan tumbuh menjadi tumbuhan baru. Contoh tumbuhannya yaitu bawang merah (Allium cepa).
4)  Umbi Batang, adalah batang yang membengkak di dalam tanah dan mengandung cadangan makanan. Pada umbi batang terdapat mata (kuncup) sehingga pada saat ditanam dapat tumbuh membentuk akar dan tunas baru. Contoh yaitu ubi jalar dan kentang.
5)  Tunas, adalah bagian batang yang memiliki bakal tunas yang dapat tumbuh menjadi tunas dan individu baru. Perkembangan tunas menjadi individu baru dipengaruhi oleh lingkungan (kelembapan, suhu, pH, dan cadangan makanan). Contoh tumbuhannya yaitu bamboo dan kelapa.
6)  Daun, adalah organ utama tumbuhan. Ada beberapa tumbuhan yang bereproduksi dengan daun. Pada daun demikian, terutama bagian pinggirnya terdapat jaringan meristem yang dapat tumbuh membentuk tunas dan akar. Contoh tumbuhannya misalnya cocor bebek.
7) Kormus adalah  pangkal batang yang membesar dan memiliki beberapa kuncup. Contoh tumbuhan yang bereproduksi dengan kormus adalah bunga tasbih, gladiol.
b.  Buatan
Reproduksi vegetatif buatan adalah cara perbanyakan yang dilakukan oleh tumbuhan dengan bantuan manusia.
Macam reproduksi vegetatif secara buatan :
1)      Mencangkok
Adalah usaha perbanyakan yang bertujuan untuk mendapatkan keturunan yang sama seperti induknya dan cepat berbuah. Tanaman dikotil yang sering dicangkok antara lain mangga, jambu air, dan jambu biji.  
2)      Menempel (okulasi)
Adalah usaha perbanyakan yang bertujuan untuk mendapatkan satu tanaman yang memiliki beberapasifat berbeda. Tanaman yang biasa diokulasi adalah jeruk, mangga. mawar, dan bunga kertas.
3)      Menyambung
Adalah usaha perbanyakan yang dilakukan dengan cara menyambung dua batang tanaman yang masih tergolong satu spesies, satu genus, dan satu famili. Contohnya yaitu penyambungan antara karet varietas Gondong Tapeh I dengan karet Ciranji I, mangga madu dengan mangga kweni, dan tomat dengan terung.
4)      Menyetek
Merupakan usaha perbanyakan yang paling banyak dikenal masyarakat, yang dilakukan dengan cara menanam potongan batang tanaman. Contoh tanamannya adalah ketela pohon, tebu, ubi jalar, anggur, jeruk nipis, dan sirih.
5)      Merunduk
Adalah usaha perbanyakan yang dilakukan dengan cara merundukkan (melengkungkan) cabang tanaman, kemudian ditimbun tanah. Sementara itu, ujung cabang dibiarkan muncul di permukaan tanah. Contoh tanamannya adalah alamanda, anyelir, dan krisan.
6)      Kultur Jaringan
Adalah usaha perbanyakan dengan memanfaatkan sifat totipotensi, yaitu kemampuan beberapa sel tanaman yang masih dalam proses pertumbuhan untuk membentuk individu tanaman. Contoh tanaman yang dapat dikembangbiakkan dengan teknik ini misalnya jati.
2.      Reproduksi Generatif
           Dengan membentuk biji yang diawali dengan pembentukan gamet (gametogenesis), penyerbukan (polinasi), peleburan gamet jantan dan betina (fertilisasi) yang menghasilkan zigot.
a.       Penyerbukan
1)      Berdasarkan asal serbuk sari, penyerbukan dapat dibedakan atas:
a)      Otogami
Otogami merupakan proses penyerbukan oleh serbuk sari yang berasal dari bunga yang sama (satu bunga). Pada saat otogami, dapat terjadi beberapa gangguan yang menghalangi pertemuan antara serbuk sari dan putik. Berikut ini beberapa istilah atau bentuk gangguan yang menghalangi penyerbukan.
·         Protandri, yaitu peristiwa serbuk sari yang matang lebih dulu dari pada putik
·         Protagini, yaitu peristiwa putik yang matang lebih dulu daripada serbuk sari
·         Serbuk sari tidak dapat sampai di kepala putik
b)      Kleistogami
Kleistogami merupakan bagian dari otogami yang terjadi pada saat bunga belum mekar.
c)      Geistonogami
Geistonogami merupakan proses penyerbukan oleh serbuk sari yang berasal dari bunga lain, tetapi masih dalam satu individu. Geistonogami disebut juga penyerbukan tetangga.
d)     Alogami
            Alogami atau xenogami merupakan proses penyerbukan oleh serbuk sari yang berasal dari individu lain, namun masih dalam satu jenis. Alogami disebut juga penyerbukan silang.
e)   Penyerbukan bastar (hibridogami)
Penyerbukan bastar terjadi jika serbuk sari berasal dari bunga pada tumbuhan lain yang berbeda jenisnya, atau sekurang-kurangnya mempunyai satu sifat berbeda.
Jenis-jenis penyerbukan bastar :
·      Bastar antar kultivar (varietas). Contohnya antara mangga golek dengan mangga gadung.
·      Bastar antar jenis (spesies). Contoh antara mangga dengan kweni.
·      Bastar antar mangga (genus). Contoh cabai dengan terong.
2)      Penyerbukan berdasarkan faktor yang membantu dibedakan menjadi:
a)      Anemogami (penyerbukan angin)
            Penyerbukan yang terjadi karena perantara angin. Ciri-ciri penyerbukan angin:
·         tidak mempunyai perhiasan bunga (mahkota)
·         serbuk sari banyak dan ringan dengan tangkai sari panjang
·         kepala putik besar
      Contoh: Famili Gramineae (padi-padian)
b)      Hydrogami
Penyerbukan yang terjadi karena perantara air, yang umumnya terjadi pada tumbuhan air.
            Contoh: Hydrilla
c)      Zoidiogami
Penyerbukan yang terjadi karena perantara hewan. Berdasarkan jenis hewannya dapat dibedakan:
·         Entomogami (penyerbukan serangga)
Ciri-ciri penyerbukan serangga:
Ø  Perhiasan bunga berwarna nemarik
Ø  Bunga berbau khas
Ø  Mempunyai kelenjar madu (nektar)
·         Ornithogami (penyerbukan burung)
·         Kiropterogami (penyerbukan kelelawar)
Terjadi pada tumbuhan yang bunganya mekar malam hari.
Ø  Malakologi (penyerbukan siput)
d)     Antropogami
Penyerbukan ini terjadi karena bantuan manusia. Karena di alam tidak terdapat vektor yang cocok untuk untuk menjadi perantara dalam penyaerbukan.
b.       Pembuahan
Setelah terjadi penyerbukan diteruskan dengan pembuahan. Sperma akan dibawa ke sel telur melalui tabung (buluh) serbuk sari. Selanjutnya, terjadi peleburan antara sel telur dengan sel sperma di dalam ovula. Ovula adalah struktur sporofit yang mengandung mega sporangium dan gametofit betina. Pembuahan antara sel gamet jantan dan betina akan menghasilkan  embrio. Berdasarkan peristiwa tersebut golongan tumbuhan berbiji disebut embryophyta siphonogama, yaitu tumbuhan yang memiliki embrio dan perkawinannya terjadi melalui pembentukan suatu buluh (Yunani, embryon= embrio/ lembaga; phyton: tumbuhan; siphon: pipa/ buluh; gamein: kawin). Embriopada tumbuhan berbiji disebut bersifat bipolar atau dwipolar. Disebut bipolar karena pada satu kutubnya akan tumbuh dan berkembang membentuk batang dan daun, sedangkan kutub lainnya membentuk sistem perakaran.
Ada dua macam pembuahan, yaitu pembuahan tunggal dan ganda.
1) Pembuahan tunggal terjadi pada tumbuhan berbiji terbuka, hanya melibatkan sebuah peristiwa peleburan antara inti sperma dengan inti sel telur.
2)      Pembuahan ganda terjadi pada tumbuhan berbiji tertutup yang melibatkan dua peristiwa peleburan inti sperma. Peristiwa peleburan pertama terjadi antara inti sperma dengan sel telur yang menghasilkan lembaga, sedangkan yang kedua antara inti sperma dengan inti kandung lembaga sekunder membentuk jaringan yang berisi cadangan makanan.

B.     Reproduksi Gimnospermae
Gymnospermae adalah tumbuhan yang memiliki biji terbuka. Gymnospermae berasal dari bahasa Yunani, yaitu gymnos yang berarti telanjang dan sperma yang berarti biji, sehingga gymnospermae dapat diartikan sebagai tumbuhan berbiji terbuka. Tumbuhan berbiji terbuka merupakan kelompok tumbuhan berbiji yang bijinya tidak terlindung dalam bakal buah (ovarium).
Gymnospermae memiliki ciri-ciri sebagai berikut.
1.      Bakal biji tidak terlindungi oleh daun buah.
2.      Batang dan akar berkambium
3.      Bentuk perakaran tunggang.
4.      Bentuk daun bermacam-macam dan kaku
5.      Batangnya bercabang
6.      Tidak memiliki bunga sejati.
7.      Alat kelamin terpisah, serbuk sari terdapat dalam strobilus jantan dan sel telur terdapat dalam strobilus betina.
8.      Dalam reproduksi terjadi pembuahan tunggal.
                        Reproduksi Gimnospermae:
            Reproduksi seksual pada tumbuhan dicirikan dengan adanya proses pembuahan. Pada tumbuhan berbiji, sebelum terjadi proses pembuahan terdapat peristiwa penyerbukan , yaitu jatuhnya serbuk sari di kepala putik. Setelah terjadi penyerbukan, sel vegetative membentuk buluh serbuk sari. Sel generative akan membagi diri menjadi sel dinding(sel tangkai; sel bersaudara; dislokator) dan sel spermatogen. Sel spermatogen membelah lagi menjadi dua sel sperma (spermatozoid) yang kemudian bergerak ke sel telur melalui buluh serbuk sari.
            Apabila spermatozoid telah bertemu dengan sel telur( proses pembuahan) di bakal biji, maka di dalam protalium terbentuk zygote yang akan tumbuh menjadi embrio. Bunga betina atau bunga majemuk seluruhnya akan berkembang menjadi buah dengan bentuk khusus yang dinamakan dennenappel ( denenapel). Dennenapel terdiri atas sebuah sumbu dengan sisik- sisik berkayu dengan biji di dalamnya. Karena memiliki bentuk seperti kerucut, maka dinamakan strobilus atau runjung.
C.    Reproduksi Angiospermae
Angiospermae  berasal dari 2 kata yaitu Angios yang artinya tertutup dan sperma yang artinya biji. Jadi Angiospermae adalah golongan tumbuhan yang menghasilkan biji dengan keadaan terlindungi oleh karpel (daun buahnya) dan pembuahannya ganda, serta memiliki alat perkawinan berupa bunga sehingga disebut juga Anthophyta. Angiospermae memiliki nama lain Magnoliophyta dan lawannya adalah Gymnospermae.
Ciri-ciri Angiospermae:
1.      memiliki bakal biji atau biji yang tertutup oleh daun buah,
2.      berakar serabut dan tunggang
3.      batang dn akar ada yang berkambium dan tidak berkamium
4.      batang dapat bercabang atau tidak
5.      mempunyai bunga sejati
6.      berdaun pipih dan lebar dengan susunan tulang daun yang beraneka ragam
7.      terjadi pembuahan ganda
Angiospermae dibedakan menjadi dua kelas, yaitu tumbuhan dikotil dan monokotil, berikut perbedaannya:


Daur hidup Angiospermae
1.      Pembentukan Gametofit
a.       Pembentukan gametofit betina


Gametofit betina terbentuk dari hasil pembelahan inti kandung lembaga primer di dalam bakal biji. Proses pembentukannya adalah sebagai berikut:
Inti kandung lembaga primer membelah tiga kali berturut-turut sehinnga terbentuk delapan inti. Kedelapan inti tersebut adalah:
1)      Tiga inti di daerah mikropil. Ketiga inti tersebut terdiri atas sebuah sel telur dan dua sel pengapit sel telur (sel sinergid).
2)      Tiga inti di daerah kalaza. Ketiga inti tersebut disebut antipoda (diduga berkaitan dalam hal makanan).
3)      Dua inti bergerak kebagian tengah kandung lembaga yang kemudian melebur membentuk inti kandung lembaga sekunder. Peleburan kedua inti tersebutberlangsung pada waktu sebelum atau sesudah buluh serbuk sari mulai masuk ke dalam putik. Jadi, gametofit betina terdiri ats sel telur (haploid; n), dan inti kandung lembaga sekunder (diploid; 2n).
b.      Pembentukan gametofit jantan
Gametofit jantan dibentuk di dalam kantong sari. Di dalam kantong sari, mikrospora (serbuk sari) mengalami pembelahan inti menjadi inti vegetatif, inti generatif, dan sel anteridium. Antara inti vegetatif yang berukuran besar dengan inti generatif yang berukuran kecil terdapat sekat pemisah berupa membrane tipis.
2.      Pembentukan Lembaga atau Embrio
a.       Pembentukan lembaga melalui proses pembuahan
Setiap proses pembuahan berawal dari proses penyerbukan. Selisih waktu antara penyerbukan dan pembuahan relative pendek. Pada saat serbuk sari jatuh di kepala putik segera terbentuk buluh serbuk sari. Biasanya, pada ujung buluh serbuk sari terdapat inti vegetatif, yang bertindak sebagai penunjuk jalan bagi inti generatif menuju bakal biji. Sel generatif membelah menjadi dua sel sperma (spermatozoid). Jadi. Pada saat penyerbukan, butur-butir serbuk sari mengandung satu inti vegetative dan dua inti sperma.
Proses pembuahan yang terjadi pada bunga angiospermae adalah pembuahan ganda. Serbuk sari yang jatuh di kepala putik akan tumbuh menjadi buluh serbuk sari. Buluh serbuk sari terus menuju ke bakal biji dan akan menyampaikan sel-sel kelamin jantan (inti sperma I dan II) kepada sel kelamin betina. Sesampai di dalam bakal biji, sel telur (n) akan dibuahi oleh inti sperma I (n) dan terbentuk zigot (2n). inti sperma II (n) akan membuahi inti kandung lembaga sekunder (2n) sehingga terbentuk endospermae (3n; triploid). Karena proses pembuahan terjadi dua kali, maka dsebut pembuahan ganda.
Berdasarkan cara buluh serbuk sari mencapai kandung lembaga di dalam bakal biji, maka pembuahan dibedakan menjadi dua jenis, yaitu sebagai berikut:
                                                1)      Porogami, yaitu pembuahan yang terjadi apabila buluh serbuk sari masuk melalui mikropil.
                                                2)      Aporogami, yaitu pembuahan yang terjadi apabila buluh serbuk sari masuk tidak melalui mikropil. Misalnya, buluh serbuk sari masuk melalui kalaza, disebut kalazogami.
b. Pembentukan lembaga tanpa proses pembuahan
                  Beberapa Amgiospermae dapat membentuk lembaga (embrio) tanpa melalui proses pembuahan. Cara pembentukan lembaga demikian disebut apomiksis. Berikut ini beberapa tipe apomiksis:
1)      Partenogenesis, yaitu terbentukya lembaga dari sel telur yang tidak dibuahi.
2)      Apogami, yaitu terbentunya lembaga dari bagian-bagian lain di dalam kandung lembaga. Misalnya, sel sinergid atau antipoda.
3)      Embrio Adventif, yaitu terbentuknya lembaga dari salah satu sel sporofit. Misalnya, slah satu sel nuselus atau sel integument yang tumbuh menjadi lembaga, kemudian masuk ke dalam kandung lembaga.
Ø  Pertumbuhan dan perkembangan
Pertumbuhan dan perkembangan merupakan dua proses yang berjalan sejajar dan berdampingan. Jadi proses pertumbuhan dan perkembangan tidak dapat dipisahkan satu dengan yang lain. Setiap makhluk hidup mengalami proses pertumbuhan dan perkembangan. Misalnya yang terjadi pada diri kita, kalau diamati keadaan ketika bayi sangat berbeda dengan keadaan saat ini.
Pertumbuhan adalah proses pertambahan ukuran yang tidak dapat kembali ke asal (irreversibel), yang meliputi pertambahan volume dam pertambahan massa. Selain disebabkan pertambahan ukuran sel, pertumbuhan juga terjadi karena pertambahan jumlah sel. Contohnya bayi yang baru lahir ukurannya + 45 cm dengan berat badan + 3 kg. Setelah mengalami pertumbuhan, tinggi badan dapat mencapai lebih dari 150 cm dan berat badan lebih dari 30 kg.
Perkembangan adalah proses menuju tercapainya kedewasaan. Pada tingkat seluler, perkembangan dapat berupa diferensiasi sel-sel yang baru membelah membentuk jaringan yang menyusun organ tertentu. Pada tumbuhan perkembangan ditandai dengan munculnya bunga atau buah. Sedang pada hewan dan manusia ditandai dengan kematangan organ reproduksi sehingga siap untuk menghasilkan keturunan. Perkembangan juga menyebabkan perkembangan psikis dari usia bayi, anak-anak, dan menjadi dewasa. Kalau diperhatikan, tinggi dan besar badan kita bisa jadi berbeda bila dibandingkan dengan teman-teman sekelas kita. Padahal usia kita hampir sama, dengan kata lain waktu tumbuh dan berkembangnya hampir sama. Hal ini disebabkan karena pertumbuhan dan perkembangan dipengaruhi oleh berbagai faktor.
Faktor-faktor yang mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan dapat dibedakan menjadi:
1.    Faktor Dalam (Internal dalam tubuh makhluk hidup sendiri)
a.    Gen
Gen adalah substansi/materi pembawa sifat yang diturunkan dari induk. Gen mempengaruhi ciri dan sifat makhluk hidup, misalnya bentuk tubuh, tinggi tubuh, warna kulit, warna bunga, warna bulu, rasa buah, dan sebagainya. Gen juga menentukan kemampuan metabolisme makhluk hidup, sehingga mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangannya. Hewan, tumbuhan, dan manusia yang memiliki gen tumbuh yang baik akan tumbuh dan berkembang dengan cepat sesuai dengan periode pertumbuhan dan perkembangannya.
Meskipun peranan gen sangat penting, faktor genetis bukan satu-satunya faktor yang menentukan pola pertumbuhan dan perkembangan, karena juga dipengaruhi oleh faktor lainnya. Misalnya tanaman yang mempunyai sifat unggul dalam pertumbuhan dan perkembangannya, hanya akan tumbuh dengan cepat, lekas berbuah, dan berbuah lebat jika ditanam di lahan subur dan kondisinya sesuai. Bila ditanam di lahan tandus dan kondisi lingkungannya tidak sesuai, pertumbuhan dan perkembangannya menjadi kurang baik.
b.    Hormon
Hormon merupakan zat yang berfungsi untuk mengendalikan berbagai fungsi di dalam tubuh. Meskipun kadarnya sedikit, hormon memberikan pengaruh yang nyata dalam pengaturan berbagai proses dalam tubuh. Hormon yang mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan pada makhluk hidup beragam jenisnya.
1) Hormon pada tumbuhan sering disebut fitohormon atau zat pengatur tubuh. Beberapa di antaranya:
a)    Auksin, berfungsi untuk memacu perpanjangan sel, merangsang pembentukan bunga, buah, dan mengaktifkan kambium untuk membentuk sel-sel baru.
b)   Sitokinin, memacu pembelahan sel serta mempercepat pembentukan akar dan tunas.
c)    Giberelin, merangsang pembelahan dan pembesaran sel serta merangsang perkecambahan biji. Pada tumbuhan tertentu, giberelin dapat menyebabkan munculnya bunga lebih cepat.
d)   Etilen, berperan untuk menghambat pemanjangan batang, mempercepat penuaan buah, dan menyebabkan penuaan daun.
e)    Asam absisat berperan dalam proses perontokan daun.
2.    Faktor Luar (Eksternal/ Lingkungan)
a.    Makanan atau Nutrisi
Bagi tumbuhan, nutrisi yang diperlukan berupa air dan zat hara yang terlarut dalam air. Melalui proses fotosintesis, air dan karbon dioksida (CO2) diubah menjadi zat makanan dengan bantuan sinar matahari. Meskipun tidak berperan langsung dalam fotosintesis, zat hara diperlukan agar tumbuhan dapat tumbuh dan berkembang dengan baik. Tanaman padi yang terlambat dipupuk, daunnya akan berwarna kekuningan. Setelah dipupuk, daun tanaman padi itu akan kembali berwarna hijau dan tumbuh dengan baik. Di dalam pupuk terkandung zat hara yang penting sebagai nutrisi tanaman.
b.     Suhu
Tumbuhan menunjukkan pengaruh yang lebih nyata terhadap suhu. Padi yang ditanam pada awal musim kemarau (suhu udara rata-rata tinggi) lebih cepat dipanen daripada padi yang ditanam pada musim penghujan (suhu udara rata-rata rendah). Jenis bunga mawar yang tumbuh dan berbunga dengan baik di pegunungan yang sejuk, ketika ditanam di daerah pantai yang panas pertumbuhannya menjadi lambat dan tidak menghasilkan bunga yang seindah sebelumnya. Hal ini disebabkan karena semua proses dalam pertumbuhan dan perkembangan seperti penyerapan air, fotosintesis, penguapan, dan pernapasan pada tumbuhan dipengaruhi oleh suhu.
c.    Cahaya
Cahaya berpengaruh terhadap pertumbuhan dan perkembangan makhluk hidup. Tumbuhan sangat membutuhkan cahaya matahari untuk fotosintesis. Namun keberadaan cahaya ternyata dapat menghambat pertumbuhan tumbuhan karena cahaya dapat merusak hormon auksin yang terdapat pada ujung batang. Bila kita menyimpan kecambah di tempat gelap selama beberapa hari, kecambah itu akan tumbuh lebih cepat (lebih tinggi) dari seharusnya, namun tampak lemah dan pucat/kekuning-kuningan karena kekurangan klorofil.
d.   Air dan Kelembapan
Air dan kelembapan merupakan faktor penting untuk pertumbuhan dan perkembangan. Air sangat dibutuhkan oleh makhluk hidup. Tanpa air, makhluk hidup tidak dapat bertahan hidup. Air merupakan tempat berlangsungnya reaksi-reaksi kimia di dalam tubuh. Tanpa air, reaksi kimia di dalam sel tidak dapat berlangsung, sehingga dapat mengakibatkan kematian.
Kelembapan adalah banyaknya kandungan uap air dalam udara atau tanah. Tanah yang lembab berpengarauh baik terhadap pertumbuhan tumbuhan. Kondisi yang lembab banyak air yang dapat diserap oleh tumbuhan dan lebih sedikit penguapan. Kondisi ini sangat mempengaruhi sekali terhadap pemanjangan sel. Kelembapan juga penting untuk mempertahankan stabilitas bentuk sel.
e.    Tanah
Bagi tumbuhan, tanah berpengaruh terhadap pertumbuhan dan perkembangannya. Tumbuhan akan tumbuh dan berkembang dengan optimal bila kondisi tanah tempat hidupnya sesuai dengan kebutuhan nutrisi dan unsur hara. Kondisi tanah ditentukan oleh faktor lingkungan lain, misalnya suhu, kandungan mineral, dan air.
1. Pertumbuhan Primer
Daerah Pertumbuhan pada Akar
Pertumbuhan primer adalah pertumbuhan yang terjadi akibat aktivitas jaringan meristem primer atau disebut juga meristem apikal. Titik tumbuh primer terbentuk sejak tumbuhan masih berupa embrio. Jaringan meristem ini terdapat di ujung batang dan ujung akar. Akibat pertumbuhan ini, akar dan batang tumbuhan bertambah panjang.
Pada titik tumbuh, pertumbuhan terjadi secara bertahap. Oleh karena itu daerah pertumbuhan dapat dibedakan menjadi tiga, yaitu daerah pembelahan, daerah perpanjangan, dan daerah diferensiasi.
a.    Daerah pembelahan terletak di bagian paling ujung. Di daerah ini sel-sel baru terus-menerus dihasilkan melalui proses pembelahan sel. Daerah inilah yang disebut daerah meristematis.
b.    Daerah pemanjangan terletak di belakang daerah pembelahan. Di daerah ini sel-sel hasil pembelahan akan tumbuh sehingga ukuran sel bertambah besar. Akibatnya di daerah inilah yang mengalami pemanjangan.
c.    Daerah diferensiasi terletak di belakang daerah pemanjangan. Sel-sel yang telah tumbuh mengalami perubahan bentuk dan fungsi. Sebagian sel mengalami diferensiasi menjadi epidermis, korteks, xilem, dan floem. Sebagian lagi membentuk parenkim, kolenkim, dan sklerenkim.
2. Pertumbuhan Sekunder
Pertumbuhan sekunder disebabkan oleh aktivitas jaringan meristem sekunder. Contoh jaringan meristem sekunder adalah jaringan kambium pada batang tumbuhan dikotil dan Gymnospermae. Sel-sel jaringan kambium senantiasa membelah. Pembelahan ke arah dalam membentuk xilem atau kayu sedangkan pembelahan ke luar membentuk floem atau kulit kayu. Akibat aktivitas jaringan meristem pada kambium, diameter batang dan akar bertambah besar. Tumbuhan monokotil tidak mempunyai kambium sehingga tidak mengalami pertumbuhan sekunder. Bila kamu perhatikandiameter batang palem, bambu, tebu, dan kelapa hampir selalu sama dari kecil hingga dewasa. Berbeda dengan tumbuhan dikotil seperti mangga, jati, jambu, asam, cemara, dan pinus.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar