Rabu, 11 Juni 2014

Model Pembelajaran VCT

Makalah PKN semester 3 uyy ..

MODEL PEMBELAJARAN VCT
A.      Pengertian Model Pembelajaran VCT
Teknik mengklarifikasi nilai (value clarification technique) atau sering disingkat VCT merupakan model pembelajaran yang dikembangkan oleh John Jarolimek. Model pembelajaran ini digunakan untuk membantu siswa dalam mencari dan menentukan suatu nilai yang dianggap baik dalam menghadapi suatu persoalan melalui proses menganalisis nilai yang sudah ada dan tertanam dalam diri siswa. Djahiri (1979: 115) mengemukakan bahwa Value Clarification Technique, merupakan sebuah cara bagaimana menanamkan dan menggali/ mengungkapkan nilai-nilai tertentu dari diri peserta didik. Dengan kata lain, Djahiri (1979: 116) menyimpulkan bahwa VCT dimaksudkan untuk “melatih dan membina siswa tentang bagaimana cara menilai, mengambil keputusan terhadap suatu nilai umum untuk kemudian dilaksanakannya sebagai warga masyarakat”.
B.       Tujuan Model Pembelajaran VCT
VCT sebagai suatu model dalam strategi pembelajaran moral bertujuan :
1.        Untuk mengukur atau mengetahui tingkat kesadaran siswa tentang suatu nilai.
2.        Membina kesadaran siswa tentang nilai-nilai yang dimilikinya baik tingkatannya maupun sifatnya (positif dan negatifnya) untuk kemudian dibina ke arah peningkatan dan pembetulannya.
3.        Untuk menanamkan nilai-nilai tertentu kepada siswa melalui cara yang rasional dan diterima siswa, sehingga pada akhirnya nilai tersebut akan menjadi milik siswa.
4.        Melatih siswa bagaimana cara menilai, menerima, serta mengambil keputusan terhadap sesuatu persoalan dalam hubungannya dengan kehidupan sehari-hari di masyarakat.

C.      Unsur-Unsur Model Pembelajaran VCT
 Prinsip reaksi model pembelajaran VCT
        Prinsip reaksi berkaitan dengan pola kegiatan yang menggambarkan bagaimana seharusnya guru memberikan respon terhadap siswa. Prinsip reaksi dalam model pembelajaran VCT adalah sebagai berikut.
1.    Guru sebagai pembimbing dalam pembelajaran.
2.    Guru memberikan fasilitas agar proses pembelajaran berlangsung optimal.
Sistem sosial model pembelajaran VCT
Sistem sosial adalah pola hubungan guru dengan siswa pada saat terjadinya proses pembelajaran. Sistem sosial pada model pembelajaran VCT adalah sebagai berikut :
1.    Kegiatan kelas berorientasi pada pemecahan masalah.
2.    Guru dan siswa mengenal dan menganalisis masalah secara rinci.
3.    Peranan guru dan siswa sederajat, walaupun dalam hal ini berbeda peran.
Sistem pendukung model pembelajaran VCT
        Sistem pendukung adalah penunjang keberhasilan pelaksanaan kegiatan belajar-mengajar di kelas. Sistem pendukung yang diperlukan untuk melaksanakan model pembelajaran VCT adalah sebagai berikut :
1.    Tersedianya perpustakaan yang dapat mendukung proses pembelajaran.
2.    Adanya sumber belajaran yang lain dan narasumber yang dapat dimanfaakan oleh siswa.
D.      Pendekatan Model Pembelajaran VCT
Pendekatan dapat diartikan sebagai titik tolak atau sudut pandang seseorang terhadap proses pembelajaran. Pendekatan yang digunakan dalam Model Pembelajaran VCT adalah pendekatan kualitatif. Penekatan kualitatif adalah pendekatan yang secara primer menggunakan paradigma pengetahuan berdasarkan pandangan konstruktivist (pengalaman individu atau pandangan advokasi). Ada tiga strategi yang digunakan dalam pendekatan ini yakni:
1.        Penelitian entografi 
Yaitu suatu bentuk penelitian yang berfokus pada makna sosiologis melalui observasi lapangan tertutup dari fenomena sosiokultural (Emzir,2007:143). Prinsip dalam penelitian entografi adalah naturalism, pemahaman, dan penemuan;
2.        Penelitian grounded theory (teori dasar)
Yaitu teori umum dari metode ilmiah yang berurusan dengan generalisasi, elaborasi, dan validasi dari teori ilmu sosial (Glaser dan Strauss dalam Emzir.2007:193). Prinsip dalam grounded theory sebagai metode ilmiah sebagai berikut: perumusan masalah, deteksi fenomena, penurunan teori, pengembangan teori, penilaian teori dan proses analisis data. Proses analisis data terdiri dari :
v  data pengkodean terbuka, peneliti membentuk kategori awal,
v  data pengkodean poros, peneliti merakit data dalam cara baru setelah open coding,
v  data pengkodean selektif, peneliti mengindentifikasi garis cerita dan menulis cerita,
v  peneliti mengembangkan dan menggambarkan secara visual suatu penjelasan kondisi sosial, historis dan ekonomis yang mempengaruhi fenomena sentral.
3.        Penelitian tindakan (action research) 
Yaitu suatu penelitian informal, kualitatif, formatif, subjektif, interpretif, reflektif dan suatu model penelitian pengalaman, di mana semua individu diibaratkan dalam studi sebagai peserta yang mengetahui dan menyokong (Hopkin dalam Emzir,2007:233). Penelitian Tindakan terdiri dari :
a.       Prinsip penelitian tindakan, yang meliputi :
·         kritik reflektif
·         kritik dialektif
·         sumber daya kolaboratif
·         ambil resiko
·         struktur jamak
·         teori praktis dan
·         transformasi.
b.      Jenis penilitian tindakan ada 4, yaitu:
·           Tindakan tradisional,
·           Tindakan kontekstural,
·           Tindakan radikal,
·           Tindakan bidang pendidikan.
c.       Metode penelitian tindakan
·           Mempertimbangkan pergantian paradigma.
·           Menetapkan suatu kesepatakantan penelitian formal.
·           Menyiapkan suatu pernyataan masalah teoritis.
·           Merencankan metode pengumpulan data.
·           Memelihara kolaborasi dan pembelajaran subjek.
·           Mengulangi peningkatan.
·           Membuat generalisasi yang mendasar.

E.       Metode Model Pembelajaran VCT
Metode adalah cara atau jalan yang ditempuh. Sehubungan dengan upaya ilmiah, maka metode menyangkut masalah cara kerja untuk dapat memahami objek yang menjadi sasaran ilmu yang bersangkutan. Fungsi metode adalah untuk mencapai tujuan. Metode yang digunakan dalam Model Pembelajaran VCT yaitu sebagai berikut :

a.     Diskusi
        Metode ini bertujuan untuk tukar menukar gagasan, pemikiran, informasi/ pengalaman diantara peserta, sehingga dicapai kesepakatan pokok-pokok pikiran (gagasan, kesimpulan). Untuk mencapai kesepakatan tersebut, para peserta dapat saling beradu argumentasi untuk meyakinkan peserta lainnya. Kesepakatan pikiran inilah yang kemudian ditulis sebagai hasil diskusi. Diskusi biasanya digunakan sebagai bagian yang tak terpisahkan dari penerapan berbagai metode lainnya, seperti: penjelasan (ceramah), curah pendapat, diskusi kelompok, permainan, dan lain-lain.
Kelebihan metode diskusi, diantaranya :
1.         Dapat mendorong partisipasi peserta didik secara aktif baik sebagai partisipan, penanya, penyanggah maupun sebagai ketua ataupun moderator.
2.         Menimbulkan kreativitas dalam ide, pendapat, gagasan, prakarsa ataupun terobosan-terobosan baru dalam pemecahan masalah.
3.         Menumbuhkan kemampuan berfikir kritis dan partisipasi demokratis.
4.         Melatih kestabilan emosi dengan menghargai dan menerima pendapat orang lain dan tidak memaksakan pendapat sendiri sehingga tercipta kondisi memberi dan menerima (take dan give).
5.         Keputusan yang diambil kelompok akan lebih baik daripada berfikir sendiri.
Kelemahan metode diskusi, diantanya :
1.         Sulit menentukan topik masalah yang sesuai dengan tingkat berfikir peserta didik yang memiliki relevansi dengan lingkungan.
2.         Memerlukan waktu yang tidak terbatas.
3.         Pembicaraan atau pembahasan sering meluas dan mengambang.
4.         Didominasi oleh orang-orang tertentu yang biasanya aktif.
5.         Kadang tidak membuat penyelesaian yang tuntas walaupun kesimpulannya telah disepakati namun implementasi sangat sulit dilaksanakan.
6.         Perbedaan pendapat dapat mengundang reaksi di luar kelas bahkan dapat menimbulkan bentrokan fisik.
b.    Curah Pendapat (Brain Storming)
Metode curah pendapat adalah suatu bentuk diskusi dalam rangka menghimpun gagasan, pendapat, informasi, pengetahuan, pengalaman, dari semua peserta. Berbeda dengan diskusi, dimana gagasan dari seseorang dapat ditanggapi (didukung, dilengkapi, dikurangi, atau tidak disepakati) oleh peserta lain, pada penggunaan metode curah pendapat pendapat orang lain tidak untuk ditanggapi. Tujuan curah pendapat adalah untuk membuat kompilasi (kumpulan) pendapat, informasi, pengalaman semua peserta yang sama atau berbeda.
c.     Bermain Peran (Role-Play)
        Bermain peran pada prinsipnya merupakan metode untuk ‘menghadirkan’ peran-peran yang ada dalam dunia nyata ke dalam suatu ‘pertunjukan peran’ di dalam kelas/pertemuan, yang kemudian dijadikan sebagai bahan refleksi agar peserta memberikan penilaian terhadap . Metode ini lebih menekankan terhadap masalah yang diangkat dalam ‘pertunjukan’, dan bukan pada kemampuan pemain dalam melakukan permainan peran.
Kelebihan metode bermain peran, diantaranya :
1.         Memupuk daya cipta, sebab simulasi dilakukan sesuai dengan kreasi siswa masing-masing dalam membawakan peranannya.
2.         Dapat merangsang siswa untuk menjadi terampil dalam menanggapi dan bertindak secara spontan, tanpa memerlukan persiapan dalam waktu lama.
3.         Memperkaya pengetahuan, sikap, dan keterampilan serta pengalaman tidak langsung, yang diperlukan dalam menghadapi berbagai situasi sosial yang problematis.
Kelemahan metode bermain peran, diantaranya :
             1.          Biaya pengembangannya tinggi dan perlu waktu lama.
             2.          Fasilitas dan alat-alat khusus yang dibutuhkan mungkin sulit diperoleh serta mahal harganya dan pemeliharaannya.
             3.          Resiko siswa atau pengajar tinggi.
d.      Wawancara
       Menurut Prabowo (1996) wawancara adalah metode pengambilan data dengan cara menanyakan sesuatu kepada seseorang responden, caranya adalah dengan bercakap-cakap secara tatap muka. Kerlinger (dalam Hasan 2000) menyebutkan 3 hal yang menjadi kekuatan metode wawancara.
1.    Mampu mendeteksi kadar pengertian subjek terhadap pertanyaan yang diajukan. Jika mereka tidak mengerti bisa diantisipasi oleh interviewer dengan memberikan penjelasan.
2.    Fleksibel, pelaksanaanya dapat disesuaikan dengan masing-masing individu.
3.    Menjadi satu-satunya hal yang dapat dilakukan disaat tehnik lain sudah tidak dapat dilakukan.
      Menurut Yin (2003) disamping kekuatan, metode wawancara juga memiliki kelemahan, yaitu sebagai berikut.
1.    Retan terhadap bias yang ditimbulkan oleh kontruksi pertanyaan yang penyusunanya kurang baik.
2.    Retan terhadap terhadap bias yang ditimbulkan oleh respon yang kurang sesuai.
3.    Probling yang kurang baik menyebabkan hasil penelitian menjadi kurang akurat.
4.    Ada kemungkinan subjek hanya memberikan jawaban yang ingin didengar olehinterviwer.
F.       Teknik Model Pembelajaran VCT
      Berkenaan dengan teknik pembelajaran nilai Jarolimek merekomendasikan beberapa cara, antara lain:
a. Teknik evaluasi diri (self evaluation) dan evaluasi kelompok (group evaluation)
      Dalam teknik evaluasi diri dan evaluasi kelompok pesertadidik diajak berdiskusi atau tanya-jawab tentang apa yang dilakukannya serta diarakan kepada keinginan untuk perbaikan dan penyempurnaan oleh dirinya sendiri:
1.         Menentukan tema, dari persoalan yang ada atau yang ditemukan peserta didik
2.         Guru bertanya berkenaan yang dialami peserta didik
3.         Peserta didik merespon pernyataan guru
4.         Tanya jawab guru dengan peserta didik berlangsung terus hingga sampai pada tujuan yang diharapkan untuk menanamkan niai-nilai yang terkandung dalam materi tersebut.
b. Teknik Lecturing
      Teknik lecturing, dilalukan guru gengan bercerita dan mengangkat apa yang menjadi topik bahasannya. Langkah-langkahnya antara lain:
1.         Memilih satu masalah / kasus / kejadian yang diambil dari buku atau yang dibuat guru.
2.         Siswa dipersilahkan memberikan tanda-tanda penilaiannya dengan menggunakan kode, misalnya: baik-buruk, salah benar, adil tidak adil, dsb.
3.         Hasil kerja kemudian dibahas bersama-sama atau kelompok kalau dibagi kelompok untuk memberikan kesempatan alasan dan argumentasi terhadap penilaian tersebut.
c. Teknik menarik dan memberikan percontohan
      Dalam teknik menarik dan memberi percontohan (example of axamplary behavior), guru membarikan dan meminta contoh-contoh baik dari diri peserta didik ataupun kehidupan masyarakat luas, kemudian dianalisis, dinilai dan didiskusikan.
d. Teknik indoktrinasi dan pembakuan kebiasan
      Teknik indoktrinasi dan pembakuan kebiasan, dalam teknik ini peserta didik dituntut untuk menerima atau melakukan sesuatu yang oleh guru dinyatakan baik, harus, dilarang, dan sebagainya.
e. Teknik tanya-jawab
      Teknik tanya-jawab guru mengangkat suatu masalah, lalu mengemukakan pertanyaan-pertanyaan sedangkan peserta didik aktif menjawab atau mengemukakan pendapat pikirannya.
f. Teknik menilai suatu bahan tulisan
      Teknik menila suatu bahan tulisan, baik dari buku atau khusus dibuat guru. Dalam hal ini peserta didik diminta memberikan tanda-tanda penilaiannya dengan kode (misal: baik - buruk, benar – tidak-benar, adil – tidak-adil dll). Cara ini dapat dibalik, siswa membuat tulisan sedangkan guru membuat catatan kode penilaiannya. Selanjutnya hasil kerja itu dibahas bersama atau kelompok untuk memberikan tanggapan terhadap penilaian.
g. Teknik mengungkapkan nilai melalui permainan (games).
      Dalam pilihan ini guru dapat menggunakan model yang sudah ada maupun ciptaan sendiri.
G.      Langkah Model Pembelajaran VCT
John Jarolimek (1974) menjelaskan langkah pembelajaran dengan Value clarification technique (VCT) dalam 7 tahap yang dibagi ke dalam 3 tingkat, setiap tahapan dijelaskan sebagai berikut :
1.    Kebebasan Memilih
     Pada tingkat ini terdapat 3 tahap, yaitu:
a.    Memilih secara bebas, artinya kesempatan untuk menentukan pilihan yang menurutnya baik. Nilai yang dipaksakan tidak akan menjadi miliknya secara penuh
b.    Memilih dari beberapa alternatif. Artinya, untuk menentukan pilihan dari beberapa alternatif pilihan secara bebas
c.    Memilih setelah dilakukan analisis pertimbangan konsekuensi yang akan timbul sebagai akibat pilihannya.
2.    Menghargai
       Terdiri atas 2 tahap pembelajaran:
a.         Adanya perasaan senang dan bangga dengan nilai yang menjadi pilihannya, sehingga nilai tersebut akan menjadi bagian dari dirinya
b.        Menegaskan nilai yang sudah menjadi bagian integral dalam dirinya di depan umum. Artinya, bila kita menggagap nilai itu suatu pilihan, maka kita akan berani dengan penuh kesadaran untuk menunjukkannya di depan orang lain.
3.    Berbuat
Pada tahap ini, terdiri atas:
a.         Kemauan dan kemampuan untuk mencoba melaksanakannya
b.        Mengulangi perilaku sesuai dengan nilai pilihannya. Artinya, nilai yang menjadi pilihan itu harus tercermin dalam kehidupannya sehari-hari.
H.      Kelemahan Model Pembelajaran VCT
     Kelemahan yang sering terjadi dalam proses pembelajaran nilai atau sikap adalah proses pembelajaran dilakukan secara langsung oleh guru, artinya guru menanamkan nilai-nilai yang dianggapnya baik tanpa memerhatikan nilai yang sudah tertanam dalam diri siswa.
     Akibatnya, sering terjadi benturan atau konflik dalam diri siswa karena ketidakcocokan antara nilai lama yang sudah terbentuk dengan nilai baru yang ditanamkan oleh guru. Siswa sering mengalami kesulitan dalam menyelaraskan nilai lama dan nilai baru.
I.         Kesimpulan
     Model pembelajaran VCTadalah model pembelajaran yang memudahkan guru untuk menanamkan dan menggali/ mengungkapkan nilai-nilai tertentu dari diri peserta didik. Penggunaan model pembelajaran ini harus diimbangi dengan kemampuan guru dalam menguasai keterampilan dan teknik dasar mengajar dengan baik. Sikap demokratis, ramah, hangat dan nuansa kekeluargaan yang akrab diperlukan, sehingga siswa berani berpendapat dan beda pendapat dengan guru maupun dengan siswa lain.
     Proses evaluasi dengan model pembelajaran ini dapat dilakukan dengan evaluasi proses dan evaluasi hasil belajar. Pada evaluasi proses dapat dilakukan dengan melakukan pengamatan jalannya diskusi, sikap dan aktivitas siswa maupun proses pembelajaran secara menyeluruh dan evaluasi hasil dapat dilihat dari hasil tes. Dan memberikan pujian kepada siswa yang mampu berpendapat sekalipun kepada siswa yang berpendapat belum lengkap secara variatif.

Semoga bermanfaat ... :) 




Tidak ada komentar:

Posting Komentar