Makalah PKN semester 3 uyy ..
MODEL PEMBELAJARAN VCT
A. Pengertian Model Pembelajaran VCT
Teknik mengklarifikasi nilai (value clarification
technique) atau sering disingkat VCT merupakan model pembelajaran yang dikembangkan
oleh John Jarolimek. Model pembelajaran ini digunakan untuk
membantu siswa dalam mencari dan menentukan suatu nilai yang dianggap baik
dalam menghadapi suatu persoalan melalui proses menganalisis nilai yang sudah
ada dan tertanam dalam diri siswa. Djahiri
(1979: 115) mengemukakan bahwa Value Clarification Technique,
merupakan sebuah cara bagaimana menanamkan dan menggali/ mengungkapkan
nilai-nilai tertentu dari diri peserta didik. Dengan kata lain, Djahiri (1979:
116) menyimpulkan bahwa VCT dimaksudkan untuk “melatih dan membina siswa
tentang bagaimana cara menilai, mengambil keputusan terhadap suatu nilai umum
untuk kemudian dilaksanakannya sebagai warga masyarakat”.
B. Tujuan Model Pembelajaran VCT
VCT sebagai suatu model dalam strategi pembelajaran moral
bertujuan :
1.
Untuk mengukur atau
mengetahui tingkat kesadaran siswa tentang suatu nilai.
2.
Membina kesadaran siswa
tentang nilai-nilai yang dimilikinya baik tingkatannya maupun sifatnya (positif
dan negatifnya) untuk kemudian dibina ke arah peningkatan dan pembetulannya.
3.
Untuk menanamkan
nilai-nilai tertentu kepada siswa melalui cara yang rasional dan diterima
siswa, sehingga pada akhirnya nilai tersebut akan menjadi milik siswa.
4.
Melatih siswa bagaimana
cara menilai, menerima, serta mengambil keputusan terhadap sesuatu persoalan
dalam hubungannya dengan kehidupan sehari-hari di masyarakat.
C. Unsur-Unsur Model Pembelajaran
VCT
Prinsip reaksi model pembelajaran VCT
Prinsip reaksi berkaitan dengan pola kegiatan yang
menggambarkan bagaimana seharusnya guru memberikan respon terhadap siswa. Prinsip
reaksi dalam model pembelajaran VCT
adalah sebagai berikut.
1. Guru
sebagai pembimbing dalam pembelajaran.
2. Guru
memberikan fasilitas agar proses pembelajaran berlangsung optimal.
Sistem sosial model pembelajaran VCT
Sistem sosial adalah
pola hubungan guru dengan siswa pada saat terjadinya proses pembelajaran. Sistem
sosial pada model pembelajaran VCT
adalah sebagai berikut :
1.
Kegiatan kelas berorientasi
pada pemecahan masalah.
2.
Guru dan siswa mengenal dan
menganalisis masalah secara rinci.
3.
Peranan guru dan siswa sederajat,
walaupun dalam hal ini berbeda peran.
Sistem pendukung model pembelajaran VCT
Sistem
pendukung adalah penunjang keberhasilan pelaksanaan kegiatan belajar-mengajar
di kelas. Sistem pendukung yang
diperlukan untuk melaksanakan model pembelajaran VCT
adalah sebagai berikut :
1.
Tersedianya perpustakaan
yang dapat mendukung proses pembelajaran.
2.
Adanya sumber belajaran
yang lain dan narasumber yang dapat dimanfaakan oleh siswa.
D. Pendekatan Model Pembelajaran
VCT
Pendekatan dapat diartikan sebagai titik tolak atau sudut
pandang seseorang
terhadap proses pembelajaran. Pendekatan yang
digunakan dalam Model Pembelajaran VCT adalah pendekatan kualitatif. Penekatan
kualitatif adalah pendekatan yang secara primer menggunakan paradigma
pengetahuan berdasarkan pandangan konstruktivist (pengalaman
individu atau pandangan advokasi). Ada tiga strategi yang digunakan dalam
pendekatan ini yakni:
1.
Penelitian entografi
Yaitu suatu bentuk
penelitian yang berfokus pada makna sosiologis melalui observasi lapangan
tertutup dari fenomena sosiokultural (Emzir,2007:143). Prinsip dalam penelitian
entografi adalah naturalism, pemahaman, dan penemuan;
2.
Penelitian grounded
theory (teori dasar)
Yaitu teori umum dari
metode ilmiah yang berurusan dengan generalisasi, elaborasi, dan validasi dari
teori ilmu sosial (Glaser dan Strauss dalam Emzir.2007:193). Prinsip
dalam grounded theory sebagai metode ilmiah sebagai berikut:
perumusan masalah, deteksi fenomena, penurunan teori, pengembangan teori, penilaian
teori dan proses analisis data. Proses analisis data terdiri dari :
v
data pengkodean terbuka,
peneliti membentuk kategori awal,
v
data pengkodean poros,
peneliti merakit data dalam cara baru setelah open coding,
v
data pengkodean selektif,
peneliti mengindentifikasi garis cerita dan menulis cerita,
v
peneliti mengembangkan dan
menggambarkan secara visual suatu penjelasan kondisi sosial, historis dan
ekonomis yang mempengaruhi fenomena sentral.
3.
Penelitian tindakan (action
research)
Yaitu suatu penelitian
informal, kualitatif, formatif, subjektif, interpretif, reflektif dan suatu
model penelitian pengalaman, di mana semua individu diibaratkan dalam studi
sebagai peserta yang mengetahui dan menyokong (Hopkin dalam Emzir,2007:233).
Penelitian Tindakan terdiri dari :
a.
Prinsip penelitian
tindakan, yang meliputi :
·
kritik reflektif
·
kritik dialektif
·
sumber daya kolaboratif
·
ambil resiko
·
struktur jamak
·
teori praktis dan
·
transformasi.
b.
Jenis penilitian tindakan
ada 4, yaitu:
·
Tindakan tradisional,
·
Tindakan kontekstural,
·
Tindakan radikal,
·
Tindakan bidang pendidikan.
c.
Metode penelitian tindakan
·
Mempertimbangkan pergantian
paradigma.
·
Menetapkan suatu
kesepatakantan penelitian formal.
·
Menyiapkan suatu pernyataan
masalah teoritis.
·
Merencankan metode pengumpulan
data.
·
Memelihara kolaborasi dan
pembelajaran subjek.
·
Mengulangi peningkatan.
·
Membuat generalisasi yang
mendasar.
E. Metode Model Pembelajaran
VCT
Metode adalah cara
atau jalan yang ditempuh. Sehubungan dengan upaya ilmiah, maka metode
menyangkut masalah cara kerja untuk dapat memahami objek yang menjadi sasaran
ilmu yang bersangkutan. Fungsi metode adalah untuk mencapai tujuan. Metode
yang digunakan dalam Model Pembelajaran VCT yaitu sebagai berikut :
a. Diskusi
Metode
ini bertujuan untuk tukar menukar gagasan, pemikiran, informasi/ pengalaman
diantara peserta, sehingga dicapai kesepakatan pokok-pokok pikiran (gagasan,
kesimpulan). Untuk mencapai kesepakatan tersebut, para peserta dapat saling
beradu argumentasi untuk meyakinkan peserta lainnya. Kesepakatan pikiran inilah
yang kemudian ditulis sebagai hasil diskusi. Diskusi biasanya digunakan sebagai
bagian yang tak terpisahkan dari penerapan berbagai metode lainnya, seperti:
penjelasan (ceramah), curah pendapat, diskusi kelompok, permainan, dan
lain-lain.
Kelebihan
metode diskusi, diantaranya :
1.
Dapat mendorong partisipasi
peserta didik secara aktif baik sebagai partisipan, penanya, penyanggah maupun
sebagai ketua ataupun moderator.
2.
Menimbulkan kreativitas
dalam ide, pendapat, gagasan, prakarsa ataupun terobosan-terobosan baru dalam
pemecahan masalah.
3.
Menumbuhkan kemampuan
berfikir kritis dan partisipasi demokratis.
4.
Melatih kestabilan emosi
dengan menghargai dan menerima pendapat orang lain dan tidak memaksakan
pendapat sendiri sehingga tercipta kondisi memberi dan menerima (take dan
give).
5.
Keputusan yang diambil
kelompok akan lebih baik daripada berfikir sendiri.
Kelemahan
metode diskusi, diantanya :
1.
Sulit menentukan topik
masalah yang sesuai dengan tingkat berfikir peserta didik yang memiliki
relevansi dengan lingkungan.
2.
Memerlukan waktu yang tidak
terbatas.
3.
Pembicaraan atau pembahasan
sering meluas dan mengambang.
4.
Didominasi oleh orang-orang
tertentu yang biasanya aktif.
5.
Kadang tidak membuat
penyelesaian yang tuntas walaupun kesimpulannya telah disepakati namun
implementasi sangat sulit dilaksanakan.
6.
Perbedaan pendapat dapat
mengundang reaksi di luar kelas bahkan dapat menimbulkan bentrokan fisik.
b. Curah
Pendapat (Brain Storming)
Metode curah pendapat adalah suatu bentuk
diskusi dalam rangka menghimpun gagasan, pendapat, informasi, pengetahuan,
pengalaman, dari semua peserta. Berbeda dengan diskusi, dimana gagasan dari
seseorang dapat ditanggapi (didukung, dilengkapi, dikurangi, atau tidak
disepakati) oleh peserta lain, pada penggunaan metode curah pendapat pendapat
orang lain tidak untuk ditanggapi. Tujuan curah pendapat adalah untuk membuat
kompilasi (kumpulan) pendapat, informasi, pengalaman semua peserta yang sama
atau berbeda.
c. Bermain Peran (Role-Play)
Bermain peran pada prinsipnya merupakan
metode untuk ‘menghadirkan’ peran-peran yang ada dalam dunia nyata ke dalam
suatu ‘pertunjukan peran’ di dalam kelas/pertemuan, yang kemudian dijadikan
sebagai bahan refleksi agar peserta memberikan penilaian terhadap . Metode ini
lebih menekankan terhadap masalah yang diangkat dalam ‘pertunjukan’, dan bukan
pada kemampuan pemain dalam melakukan permainan peran.
Kelebihan
metode bermain peran, diantaranya :
1.
Memupuk daya cipta, sebab
simulasi dilakukan sesuai dengan kreasi siswa masing-masing dalam membawakan
peranannya.
2.
Dapat merangsang siswa
untuk menjadi terampil dalam menanggapi dan bertindak secara spontan, tanpa
memerlukan persiapan dalam waktu lama.
3.
Memperkaya pengetahuan,
sikap, dan keterampilan serta pengalaman tidak langsung, yang diperlukan dalam
menghadapi berbagai situasi sosial yang problematis.
Kelemahan
metode bermain peran, diantaranya :
1.
Biaya pengembangannya
tinggi dan perlu waktu lama.
2.
Fasilitas dan alat-alat
khusus yang dibutuhkan mungkin sulit diperoleh serta mahal harganya dan
pemeliharaannya.
3.
Resiko siswa atau pengajar
tinggi.
d. Wawancara
Menurut Prabowo (1996) wawancara adalah metode
pengambilan data dengan cara menanyakan sesuatu kepada seseorang responden,
caranya adalah dengan bercakap-cakap secara tatap muka. Kerlinger (dalam Hasan 2000) menyebutkan 3 hal yang
menjadi kekuatan metode wawancara.
1.
Mampu mendeteksi kadar
pengertian subjek terhadap pertanyaan yang diajukan. Jika mereka tidak mengerti
bisa diantisipasi oleh interviewer dengan memberikan
penjelasan.
2.
Fleksibel,
pelaksanaanya dapat disesuaikan dengan masing-masing individu.
3.
Menjadi satu-satunya hal
yang dapat dilakukan disaat tehnik lain sudah tidak dapat dilakukan.
Menurut Yin
(2003) disamping kekuatan, metode wawancara juga memiliki kelemahan, yaitu
sebagai berikut.
1.
Retan terhadap bias yang
ditimbulkan oleh kontruksi pertanyaan yang penyusunanya kurang baik.
2.
Retan terhadap terhadap
bias yang ditimbulkan oleh respon yang kurang sesuai.
3.
Probling yang
kurang baik menyebabkan hasil penelitian menjadi kurang akurat.
4.
Ada kemungkinan subjek
hanya memberikan jawaban yang ingin didengar olehinterviwer.
F. Teknik Model Pembelajaran
VCT
Berkenaan
dengan teknik pembelajaran nilai Jarolimek merekomendasikan beberapa cara,
antara lain:
a. Teknik
evaluasi diri (self evaluation) dan evaluasi kelompok (group
evaluation)
Dalam
teknik evaluasi diri dan evaluasi kelompok pesertadidik diajak berdiskusi atau
tanya-jawab tentang apa yang dilakukannya serta diarakan kepada keinginan untuk
perbaikan dan penyempurnaan oleh dirinya sendiri:
1.
Menentukan tema, dari
persoalan yang ada atau yang ditemukan peserta didik
2.
Guru bertanya berkenaan
yang dialami peserta didik
3.
Peserta didik merespon
pernyataan guru
4.
Tanya jawab guru dengan
peserta didik berlangsung terus hingga sampai pada tujuan yang diharapkan untuk
menanamkan niai-nilai yang terkandung dalam materi tersebut.
b. Teknik Lecturing
Teknik lecturing, dilalukan
guru gengan bercerita dan mengangkat apa yang menjadi topik bahasannya.
Langkah-langkahnya antara lain:
1.
Memilih satu masalah /
kasus / kejadian yang diambil dari buku atau yang dibuat guru.
2.
Siswa dipersilahkan
memberikan tanda-tanda penilaiannya dengan menggunakan kode, misalnya:
baik-buruk, salah benar, adil tidak adil, dsb.
3.
Hasil kerja kemudian
dibahas bersama-sama atau kelompok kalau dibagi kelompok untuk memberikan
kesempatan alasan dan argumentasi terhadap penilaian tersebut.
c. Teknik
menarik dan memberikan percontohan
Dalam
teknik menarik dan memberi percontohan (example of axamplary behavior),
guru membarikan dan meminta contoh-contoh baik dari diri peserta didik ataupun
kehidupan masyarakat luas, kemudian dianalisis, dinilai dan didiskusikan.
d. Teknik
indoktrinasi dan pembakuan kebiasan
Teknik
indoktrinasi dan pembakuan kebiasan, dalam teknik ini peserta didik dituntut
untuk menerima atau melakukan sesuatu yang oleh guru dinyatakan baik, harus,
dilarang, dan sebagainya.
e. Teknik
tanya-jawab
Teknik
tanya-jawab guru mengangkat suatu masalah, lalu mengemukakan
pertanyaan-pertanyaan sedangkan peserta didik aktif menjawab atau mengemukakan
pendapat pikirannya.
f. Teknik
menilai suatu bahan tulisan
Teknik
menila suatu bahan tulisan, baik dari buku atau khusus dibuat guru. Dalam hal
ini peserta didik diminta memberikan tanda-tanda penilaiannya dengan kode
(misal: baik - buruk, benar – tidak-benar, adil – tidak-adil dll). Cara
ini dapat dibalik, siswa membuat tulisan sedangkan guru membuat catatan kode
penilaiannya. Selanjutnya hasil kerja itu dibahas bersama atau kelompok untuk
memberikan tanggapan terhadap penilaian.
g. Teknik
mengungkapkan nilai melalui permainan (games).
Dalam pilihan ini guru
dapat menggunakan model yang sudah ada maupun ciptaan sendiri.
G. Langkah
Model Pembelajaran
VCT
John Jarolimek (1974) menjelaskan langkah pembelajaran dengan Value
clarification technique (VCT) dalam 7 tahap yang dibagi ke dalam 3 tingkat,
setiap tahapan dijelaskan sebagai berikut :
1.
Kebebasan Memilih
Pada tingkat
ini terdapat 3 tahap, yaitu:
a.
Memilih secara bebas, artinya
kesempatan untuk menentukan pilihan yang menurutnya baik. Nilai yang dipaksakan
tidak akan menjadi miliknya secara penuh
b.
Memilih dari beberapa
alternatif. Artinya, untuk menentukan pilihan dari beberapa alternatif pilihan
secara bebas
c.
Memilih setelah dilakukan
analisis pertimbangan konsekuensi yang akan timbul sebagai akibat pilihannya.
2.
Menghargai
Terdiri atas 2 tahap
pembelajaran:
a.
Adanya perasaan senang dan
bangga dengan nilai yang menjadi pilihannya, sehingga nilai tersebut akan
menjadi bagian dari dirinya
b.
Menegaskan nilai yang sudah
menjadi bagian integral dalam dirinya di depan umum. Artinya, bila kita
menggagap nilai itu suatu pilihan, maka kita akan berani dengan penuh kesadaran
untuk menunjukkannya di depan orang lain.
3.
Berbuat
Pada tahap ini, terdiri atas:
a.
Kemauan dan kemampuan untuk
mencoba melaksanakannya
b.
Mengulangi perilaku sesuai
dengan nilai pilihannya. Artinya, nilai yang menjadi pilihan itu harus
tercermin dalam kehidupannya sehari-hari.
H. Kelemahan Model Pembelajaran VCT
Kelemahan yang sering terjadi dalam proses pembelajaran nilai atau sikap
adalah proses pembelajaran dilakukan secara langsung oleh guru, artinya guru
menanamkan nilai-nilai yang dianggapnya baik tanpa memerhatikan nilai yang
sudah tertanam dalam diri siswa.
Akibatnya, sering terjadi benturan atau konflik dalam diri siswa
karena ketidakcocokan antara nilai lama yang sudah terbentuk dengan nilai baru
yang ditanamkan oleh guru. Siswa sering mengalami kesulitan dalam menyelaraskan
nilai lama dan nilai baru.
I.
Kesimpulan
Model pembelajaran VCTadalah
model pembelajaran yang memudahkan guru untuk menanamkan dan menggali/
mengungkapkan nilai-nilai tertentu dari diri peserta didik. Penggunaan model
pembelajaran ini harus diimbangi dengan kemampuan guru dalam menguasai
keterampilan dan teknik dasar mengajar dengan baik. Sikap demokratis, ramah,
hangat dan nuansa kekeluargaan yang akrab diperlukan, sehingga siswa berani
berpendapat dan beda pendapat dengan guru maupun dengan siswa lain.
Proses evaluasi dengan model pembelajaran ini dapat dilakukan
dengan evaluasi proses dan evaluasi hasil belajar. Pada evaluasi proses dapat
dilakukan dengan melakukan pengamatan jalannya diskusi, sikap dan aktivitas
siswa maupun proses pembelajaran secara menyeluruh dan evaluasi hasil dapat
dilihat dari hasil tes. Dan memberikan pujian kepada siswa yang mampu
berpendapat sekalipun kepada siswa yang berpendapat belum lengkap secara
variatif.
Semoga bermanfaat ... :)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar