laporan ini disusun untuk memenuhi tugas media pembelajaran semester 4 ....
BAB I
PENDAHULUAN
A.
Latar Belakang
Pada hakikatnya proses belajar
mengajar adalah proses komunikasi. Kegiatan belajar mengajar di kelas
merupakan suatu dunia komunikasi tersendiri dimana guru atau dosen dan
siswa/mahasiswanya bertukar pikiran untuk mengembangkan ide dan pengertian.
Dalam komunikasi sering timbul dan terjadi penyimpangan-penyimpangan sehingga
komunikasi tersebut tidak efektif dan efisien, antara lain disebabkan oleh
adanya kecenderungan verbalisme, ketidaksiapan siswa/mahasiswa, kurangnya
minat dan kegairahan, dan sebagainya.
Salah satu usaha untuk mengatasi
keadaan demikian ialah penggunaan media secara terintegrasi dalam proses
belajar mengajar, karena fungsi media dalam kegiatan tersebut disamping penyaji
stimulus informasi, sikap, dan lain-lain, juga untuk meningkatkan keserasian
dalam penerimaan informasi.
Guru bukanlah satu-satunya sumber
belajar bagi siswa (teacher centered), tetapi yang lebih diharapkan
adalah bahwa pembelajaran berpusat pada siswa (student centered). Dalam
kondisi seperti ini, guru atau pengajar lebih banyak berfungsi sebagai
fasilitator pembelajaran. Jadi, siswa atau pembelajar sebaiknya secara aktif
berinteraksi dengan sumber belajar, berupa lingkungan. Lingkungan yang dimaksud
(menurut Arsyad, 2002) adalah guru itu sendiri, siswa lain, kepala sekolah,
petugas perpustakaan, bahan atau materi ajar (berupa buku, modul, selebaran,
majalah, rekaman video, atau audio, dan yang sejenis), dan berbagai sumber
belajar serta fasilitas (OHP, perekam pita audio dan video, radio, televisi,
komputer, perpustakaan, laboratorium, pusat-pusat sumber belajar, termasuk alam
sekitar). Berdasarkan deskripsi di atas, maka media adalah bagian yang sangat
penting dan tidak terpisahkan dari proses pembelajaran, terutama untuk mencapai
tujuan pembelajaran itu sendiri
Media pembelajaran adalah
suatu bagian yang integral dari proses pembelajaran di kelas . Untuk mencapai
hasil belajar yang maksimal, pembelajar harus mempunyai pengetahuan tentang
pengelolaan media pembelajaran baik sebagai alat bantu pengajaran maupun
sebagai pendukung agar materi / isi pelajaran semakin jelas dan dengan
mudah dapat dikuasai pebelajar.
Media merupakan salah satu sarana
untuk meningkatkan kegiatan proses belajar mengajar. Karena beraneka ragamnya
media tersebut, maka masing-masing media mempunyai karakteristik yang
berbeda-beda. Untuk itu perlu memilihnya dengan cermat dan tepat agar
dapat digunakan sacara tepat guna.
Atas
dasar latar belakang diatas, maka penulis membuat laporan mengenai penggunaan
media yang mana merupakan tindak lanjut dari kegiatan observasi yang penulis
laksanakan di Universitas Pendikan Indonesia dan SD Muhammadiyah 7 Bandung.
B.
Rumusan Masalah
1.
Bagaimana Pengembangan penggunaan media dalam pendidikan?
2.
Bagaimana Hasil setelah pembelajaran menggunakan media?
3.
Bagaimana Tindak lanjut penggunaan media setelah lulus?
4.
Bagaimana Tanggapan mahasiswa tentang penggunaan media di SD
Muhammadiyah 7 Bandung dan UPI?
C.
Tujuan Penulisan
1.
Mengetahui Pengembangan penggunaan media
2.
Mengetahui Hasil setelah pembelajaran menggunakan media
3.
Mengetahui Tindak lanjut penggunaan media setelah lulus
4.
Mengetahui Tanggapan mahasiswa tentang penggunaan media di SD Muhammadiyah
7 Bandung dan UPI.
D.
Manfaat Observasi
1.
Dapat mengetahui perangkat dan media pembelajaran apa saja yang ada dan
digunakan di UPI
2.
Dapat menambah ilmu dan wawasan
kita mengenai perangkat pembelajaran
E.
Tempat dan Jadwal Observasi
a.
Tempat : Universitas
Pendidikan Indonesia dan SD Muhammadiyah
7 Bandung
b.
Waktu : Senin, 21 April
2014
F.
Instrumen Observasi
Adapun Instrumen yang digunakan :
1.
Pengamatan
a.
Dengan Pengamatan Langsung
b.
Wawancara
2.
Alat Pengamatan
a.
Lembar Pengamatan
b.
Hasil Wawancara Siswa
BAB II
KAJIAN TEORI
A. Definisi Media
Media adalah sebuah alat yang mempunyai fungsi
menyampaikan pesan (Bovee, 1997). Media
pembelajaran secara umum adalah alat bantu proses belajar mengajar. Pengertian
media menurut beberapa ahli, diantaranya :
1. Menurut AECT
(Assosiation for Educational Communication and Technology). Media merupakan
segala bentuk dan saluran yang digunakan dalam proses penyampaian informasi
(Azhar Arsyad, 2002:3)
2. Menurut NEA ( National Educational
Assosiation). Media adalah bentuk-bentuk komunikasi baik tercetak maupun audio
visual serta peralatannya. Media hendaknya dapat dimanipulasi, dapat dilihat,
didengar, dan di baca (Arif Sadiman , 2003:6 )
3. Menurut P. Ely dan Vernon S. Gerlach. Media
memiliki dua pengertian yaitu arti luas dan sempit. Menurut arti luas yaitu kegiatan
yang dapat menciptakan kondisi, sehingga memungkinkan peserta didik dapat
memperoleh pengetahuan, ketrampilan, dan sikap yang baru. Dan menurut arti
sempit media berwujud grafik, foto, alat mekanik dan elektronik yang digunakan
untuk menangkap, memproses, serta menyampaikan informasi. (Ahmad Rohani ,
1997:2-3)
4. Menurut Asnawir dan Basyiruddin dalam bukunya
mendefinisikan media adalah suatu yang bersifat menyalurkan pesan dan dapat
merangsang pikiran dan kemauan audiens (siswa) sehingga dapat mendorong
terjadinya proses pendidikan (Asnawir, Basyiruddin, 2002:11)
Media pembelajaran adalah sebuah
alat yang berfungsi dan digunakan untuk menyampaikan pesan pembelajaran.
Pembelajaran adalah proses komunikasi antara pembelajar, pengajar, dan bahan
ajar. Substansi dari media pembelajaran adalah bentuk saluran, yang digunakan
untuk menyalurkan pesan, informasi atau bahan pelajaran kepada penerima pesan
atau pembelajar dapat pula dikatakan
bahwa media pembelajaran adalah berbagai jenis komponen dalam lingkungan
dalam lingkungan pembelajar yang dapat merangsang pembelajar untuk belajar
Secara umum ada empat jenis media pembelajaran, yaitu :
1.
Media visual, yaitu jenis media yang digunakan hanya mengandalkan indera
penglihatan peserta didik semata-mata, sehingga pengalaman belajar yang
diterima peserta didik sangat tergantung pada kemampuan penglihatannya seperti
buku, jurnal, poster, globe bumi, peta, foto, alam sekitar dan sebagainya.
2.
Meida audio adalah jenis media yang digunakan dalam proses pembelajaran
dengan hanya melibatkan indera pendengaran peserta didik. Pengalaman belajar
yang akan didapatkan adalah dengan mengandalkan indera kemampuan pendengaran.
Contoh : radio, tape recorder,
laboratorium bahasa, dan sejenisnya
3.
Media audio-visual, adalah jenis media yang digunakan dalam proses
pembelajaran dengan melibatkan pendengaran dan penglihatan sekaligus dalam satu
proses atau kegiatan. Pesan dan informasi yan dapat disalurkan melalui media
ini dapat berupa pesan verbal dan nonverbal yang mengandalkan baik penglihatan
maupun pendengaran
4.
Multimedia, yaitu media yang melibatkan jenis media untuk merangsang
semua indera dalam satu kegiatan pembelajaran. Multimedia lebih ditekankan pada
penggunaan berbagai medai berbasis TIK dan komputer
B. Tujuan Penggunaan Media
Penggunaan media pengajaran sangat diperlukan
dalam kaitannya dengan peningkatan mutu. Menurut Achsin (1986:17-18) menyatakan
bahwa tujuan penggunaan media pengajaran adalah :
1.
Agar proses belajar mengajar yang sedang berlangsung dapat berjalan
dengan tepat guna dan berdaya guna
2.
Untuk mempermudah bagi guru/pendidik daiam menyampaikan informasi materi
kepada anak didik
3.
Untuk mempermudah bagi anak didik dalam menyerap atau menerima serta
memahami materi yang telah disampaikan oleh guru/pendidik
4.
Untuk dapat mendorong keinginan anak didik untuk mengetahui lebih banyak
dan mendalam tentang materi atau pesan yang disampaikan oleh guru/pendidik
5.
Untuk menghindarkan salah pengertian atau salah paham antara anak didik
yang satu dengan yang lain terhadap materi atau pesan yang disampaikan oleh
guru/pendidik.
Sedangkan
Sudjana, dkk. (2002:2) menyatakan tentang tujuan pemanfaatan media adalah
1.
Pengajaran akan lebih menarik perhatian siswa sehingga dapat menimbulkan
motivasi
2.
Bahan pelajaran akan lebih jelas maknanya sehingga dapat lebih dipahami
3.
Metode mengajar akan lebih bervariasi, dan
4.
Siswa akan lebih banyak melakukan kegiatan belajar.
Seorang
guru dalam melaksanakan proses pembelajaran harus memiliki gagasan yang
ditunjukan dalam desain pembelajaran, sebagai titik awal dalam melaksanakan komunikasi dengan siswa.
Karena itu, diperlukan pemahaman tentang unsur-unsur yang dapat menunjang
proses komunikasi serta tujuan dari komunikasi.
Agar proses komunikasi pembelajaran berjalan secara efektif dan efisien, guru perlu menggunakan media
untuk merangsang siswa dalam belajar. Jadi pada prinsipnya media bermanfaat
untuk menunjang proses pembelajaran, hal ini bukan saja membuat penyajian
menjadi lebih konkrit, tetapi juga ada beberapa kegunaan yang lain.
C. Landasan Penggunaan Media
1.
Landasan Psikologis
Landasan psikologis penggunaan media
pembelajaran ialah alasan atau rasional mengapa media pembelajaran dipergunakan
ditinjau dari kondisi belajar dan bagaimana proses belajar itu terjadi.Walaupun
telah diketahui adanya pandangan yang berbeda tentang belajar dan bagaimana
belajar itu terjadi, namun dapat dikatakan bahwa belajar itu adalah suatu
proses yang mengakibatkan adanya perubahan perilaku oleh adanya pengalaman.
Perubahan perilaku itu dapat berupa bertambahnya pengetahuan, diperolehnya
keterampilan atau kecekatan dan berubahnya sikap seseorang yang telah
belajar.
Dengan memperhatikan kompleks dan uniknya
proses belajar, maka ketepatan pemilihan media akan sangat berpengaruh terhadap
hasil belajar siswa. Oleh sebab itu, pemakaian media dalam pendidikan sangat
berkaitan dengan perkembangan psikologi belajar peserta didik. Pada hakikatnya,
tujuan pendidikan, termasuk pengajaran adalah diperolehnya perubahan tingkah
laku individu. Perubahan tingkah laku itu wujud dari hasil belajar.
Yang terpenting dalam proses belajar peserta
didik dilihat dari psikologis tentunya adanya keinginan atau motivasi dan
kebutuhan dari pesrta didik itu sendiri. Selain, keinginan yang kuat, motivasi
dalam diri sendiri dan lingkunganya tentu akan menambah semangat peserta didik,
serta dengan adanya kesadaran kebutuhan bahwa pendidikan dalam hidup itu
diperlukan.
2.
Landasan Sosiologis
Pesatnya penggunaan teknologi di dalam dunia
pendidikan pada tahun 1950-an dikarenakan timbulnya kepercayaan terhadaap ilmu
pengetahuan sebagai cara untuk memperbaiki mutu kehidupan dan karena ledakan
penduduk usia sekolah yang makin banyak. Tantangan tersebut segera memperoleh
jawaban dari dunia perekonomian dengan menciptakan pelbagai perangkat keras
sebagai bantuan teknologis yang dirancang untuk tujuan pengajaran yang lebih
efektif serta ekonomis.
Sekalipun demikian, timbul sedikit
keragu-raguan terhadap kemungkinan pendayagunaan dalam jangka panjang dari
peralatan teknologi secara luas di kelas- kelas dan berbagai bentuk multimedia.
Dalam proses tersebut peranan komunikasi sangat penting, sebab hakikat teknologi pengajaran adalah upaya guru mempengaruhi siswa agar dapat mencapai tujuan penddikan . Oleh sebab itu, landasan sosial teknologi pengajaran ada pada komunikasi insani.
Dalam proses tersebut peranan komunikasi sangat penting, sebab hakikat teknologi pengajaran adalah upaya guru mempengaruhi siswa agar dapat mencapai tujuan penddikan . Oleh sebab itu, landasan sosial teknologi pengajaran ada pada komunikasi insani.
Berkomunikasi merupakan kegiatan manusia,
sesuai dengan naluriahnya yang selalu ingin berhubungan satu sama lain, saling
berinteraksi dan saling membutuhkan. Keinginan untuk berhubungan di antara
sesamanya sesungguhnya merupakan naluri manusia yang ingin hidup berkelompok atau
bermasyarakat. Dengan adanya naluri tersebut, maka komunikasi dapat dikatakan
merupakan bagian hakiki dari kehidupanya yang senantiasa hidup bermasyarakat.
Dengan kata lain, manusia akan kehilangan hakekatnya sebagai manusia bila ia
tidak melakukan kegiatan komunikasi dengan sesamanya.
Dalam Proses belajar pada hakekatnya adalah
proses komunikasi, yaitu proses penyampaian pesan dari sumber pesan
melalui saluran atau media tertentu ke penerima pesan. Pesan, sumber pesan,
saluran atau media dan penerima pesan adalah komponen komponen komunikasi.
Pesan yang akan dikomunikasikan adalah isi ajaran atau didikan yang ada di
kurikulum, sumber pesan bisa guru, peserta didik, orang lain atau penulis buku
dan produser media, saluranya adalah media pendidikan dan penerima pesan adalah
peserta didik atau juga guru.
3.
Landasan Teknologis
Sasaran akhir dari teknologi pembelajaran
adalah memudahkan pebelajar untuk belajar. Untuk mencapai sasaran akhir ini,
teknolog-teknolog di bidang pembelajaran mengembangkan berbagai sumber belajar
untuk memenuhi kebutuhan setiap pebelajar sesuai dengan karakteristiknya.
Dalam upaya itu, teknolog berkerja mulai dari
pengembangan dan pengujian teori-teori tentang berbagai media pembelajaran
melalui penelitian ilmiah, dilanjutkan dengan pengembangan disainnya, produksi,
evaluasi dan memilih media yang telah diproduksi, pembuatan katalog untuk
memudahkan layanan penggunaannya, mengembangkan prosedur penggunaannya, dan
akhirnya menggunakan baik pada tingkat kelas maupun pada tingkat yang lebih
luas lagi (diseminasi).
Semua kegiatan ini dilakukan oleh para teknolog
dengan berpijak pada prinsip bahwa suatu media hanya memiliki keunggulan dari
media lainnya bila digunakan oleh pebelajar yang memiliki karakteristik sesuai
dengan rangsangan yang ditimbulkan oleh media pembelajaran itu. Dengan
demikian, proses belajar setiap pebelajar akan amat dimudahkan dengan hadirnya
media pembelajaran yang sesuai dengan karakteristik belajarnya.
Media pembelajaran sebagai bagian dari
teknologi pembelajaran memiliki enam manfaat potensial dalam memecahkan masalah
pembelajaran, yaitu:
a.
Meningkatkan produktivitas pendidikan ( Can make education more productive).
Dengan media dapat meningkatkan produktivitas
pendidikan antara lain dengan jalan mempercepat laju belajar siswa, membantu
guru untuk menggunakan waktunya secara lebih baik dan mengurangi beban guru
dalam menyajikan informasi, sehingga guru lebih banyak membina dan mengembangkan
kegairahan belajar siswa.
b.
Memberikan kemungkinan pembelajaran yang sifatnya lebih individual (Can
make education more individual).
Pembelajaran menjadi lebih bersifat
individual antara lain dalam variasi cara belajar siswa, pengurangan kontrol
guru dalam proses pembelajaran, dan memberikan kesempatan kepada siswa untuk
berkembang sesuai dengan kemampuan dan kesempatan belajarnya.
c.
Memberikan dasar yang lebih ilmiah terhadap pembelajaran ( Can give
instruction a more scientific base).
Artinya perencanaan program pembelajaran
lebih sistematis, pengembangan bahan pembelajaran dilandasi oleh penelitian
tentang karakteristik siswa, karakteristk bahan pembelajaran, analisis
instruksional dan pengembangan disain pembelajaran dilakukan dengan serangkaian
uji coba yang dapat dipertanggung jawabkan secara ilmiah.
d.
Lebih memantapkan pembelajaran (Make instruction more powerful).
Pembelajaran menjadi lebih mantap dengan jalan
meningkatkan kapabilitas manusia menyerap informasi dengan melalui berbagai
media komunikasi, di mana informasi dan data yang diterima lebih banyak,lengkap
dan akurat
e.
Dengan media membuat proses pembelajaran menjadi lebih langsung/seketika
(Can make learning more immediate).
Karena media mengatasi jurang pemisah antara
pebelajar dan sumber belajar, dan meng-atasi keterbatasan manusia pada ruang
dan waktu dalam memperoleh informasi, dapat menyajikan “kekongkritan” meskipun
tidak secara langsung.
f.
Memungkinkan penyajian pembelajaran lebih merata dan meluas (Can make
access to education more equal).
4.
Landasan Empirik
Berbagai temuan penelitian menunjukkan bahwa
ada interaksi antara penggunaan media pembelajaran dan karakteristik pebelajar
dalam menentukan hasil belajar siswa. Artinya bahwa pebelajar akan mendapat
keuntungan yang signifikan bila ia belajar dengan menggunakan media yang sesuai
dengan karakteristiknya. Pebelajar yang memiliki gaya visual akan lebih
mendapat keuntungan dari penggunaan media visual, seperti film, video, gambar
atau diagram; sedangkan pebelajar yang memiliki gaya belajar auditif lebih
mendapatkan keuntungan dari penggunaan media pembelajaran auditif, seperti
rekaman, radio, atau ceramah guru.
Atas dasar ini, maka prinsip penyesuaian jenis media yang akan digunakan dalam kegiatan pembelajaran dengan karakteristik individual pebelajar, menjadi semakin mantap. Pemilihan dan penggunaan media hendaknya jangan didasarkan pada kesukaan atau kesenangan guru, tetapi dilandaskan pada kecocokan media itu dengan karakteristik pebelajar, di samping sejumlah kriteria lain yang dijelaskan pada bagian lain buku ini.
Atas dasar ini, maka prinsip penyesuaian jenis media yang akan digunakan dalam kegiatan pembelajaran dengan karakteristik individual pebelajar, menjadi semakin mantap. Pemilihan dan penggunaan media hendaknya jangan didasarkan pada kesukaan atau kesenangan guru, tetapi dilandaskan pada kecocokan media itu dengan karakteristik pebelajar, di samping sejumlah kriteria lain yang dijelaskan pada bagian lain buku ini.
5.
Landasan Filosofis
Ada suatu pandangan bahwa dengan digunakannya berbagai
jenis media hasil teknologi baru di dalam kelas, akan berakibat proses
pembelajaran yang kurang manusiawi. Dengan kata lain, penerapan teknologi dalam
pembelajaran akan terjadi dehumanisasi. Bukankan dengan adanya berbagai media
pembelajaran justru siswa dapat mempunyai banyak pilihan untuk digunakan media
yang sesuai dengan karakteristik pribadinya? Dengan kata lain siswa dihargai
harkat kemanusiaanya diberi kebebasan untuk menentukan pilhan, baik cara maupun
alat belajar sesuai dengan kemampuannya. Dengan demikian, penerapan teknologi
tidak berarti dehumanisasi. Sebenarnya perbedaan pendapat tersebut tidak perlu
muncul, yang penting bagaimana pandangan guru terhadap siswa dalam proses
pembelajaran. Jika guru menganggap siswa sebagai anak manusia yang memiliki
keprbadian, harga diri, motivasi, dan memiliki kemampuan pribadi yang berbeda
dengan yang lain,maka baik menggunakan media hasil teknologi baru atau tidak,
proses pembelajaran yang dilakukan akan tetap menggunakan pendekatan humanis.
6.
Landasan Historis
Yang dimaksud dengan landasan historis media
pembelajaran ialah rasional penggunaan media pembelajaran yang ditinjau dari
sejarah konsep istilah media digunakan dalam pembelajaran. Untuk mengetahui latar
belakang sejarah penggunaan konsep media pembelajaran marilah kita ikuti
penjelasan berikut ini.
Perkembangan konsep media pembelajaran
sebenarnya bermula dengan lahirnya konsepsi pengajaran visual atau alat bantu
visual sekitar tahun 1923.Yang dimaksud dengan alat bantu visual dalam konsepsi
pengajaran visual ini adalah setiap gambar, model, benda atau alat yang dapat
memberikan pengalaman visual yang nyata kepada siswa.
Kemudian kosep pengajaran visual ini berkembang menjadi “audio visual instruction” atau “audio visual education” yaitu sekitar tahun 1940. Sekitar tahun 1945 timbul beberapa variasi nama seperti “audio visual materials”, “audio visual methods”, dan “audio visual devices”. Inti dari kosepsi ini adalah digunakannya berbagai alat atau bahan oleh guru untuk memindahkan gagasan dan pengalaman siswa melalui mata dan telinga. Pemanfaat-an konsepsi audio visual ini dapat dilihat dalam “Kerucut Pengalaman” dari Edgar Dale.
Kemudian kosep pengajaran visual ini berkembang menjadi “audio visual instruction” atau “audio visual education” yaitu sekitar tahun 1940. Sekitar tahun 1945 timbul beberapa variasi nama seperti “audio visual materials”, “audio visual methods”, dan “audio visual devices”. Inti dari kosepsi ini adalah digunakannya berbagai alat atau bahan oleh guru untuk memindahkan gagasan dan pengalaman siswa melalui mata dan telinga. Pemanfaat-an konsepsi audio visual ini dapat dilihat dalam “Kerucut Pengalaman” dari Edgar Dale.
Perkembangan besar berikutnya adalah munculnya gerakan
yang disebut “audio visual communication” pada tahun 1950-an.
Dengan diterapkannya konsep komunikasi dalam pembelajaran, penekanan tidak lagi diletakkan pada benda atau bahan yang berupa bahan audio visual untuk pembelajaran, tetapi dipusatkan pada keseluruhan proses komunikasi informasi atau pesan dari sumber (guru, materi atau bahan) kepada penerima (peserta didik).
Dengan diterapkannya konsep komunikasi dalam pembelajaran, penekanan tidak lagi diletakkan pada benda atau bahan yang berupa bahan audio visual untuk pembelajaran, tetapi dipusatkan pada keseluruhan proses komunikasi informasi atau pesan dari sumber (guru, materi atau bahan) kepada penerima (peserta didik).
BAB III
PEMBAHASAN
A. Pengembangan Penggunaan Media dalam Pendidikan
Menurut
Dr. Arif Sadiman, M. Sc. dkk, perkembangan media pada mulanya media hanya dianggap
sebagai alat bantu mengajar guru (teaching aids). Alat bantu yang
dipakai adalah alat bantu visual, misalnya gambar, model, objek, dan alat-alat
lain yang dapat memberikan pengalaman kongkret, motivasi belajar serta
mempertinggi daya serap dan retensi belajar siswa. Namun sayang, karena terlalu
memusatkan perhatian pada alat bantu visual yang dipakainya, orang kurang
memperhatikan aspek desain, pengembangan pembelajaran, produksi dan
evaluasinya. Dengan masuknya pengaruh teknologi audio pada sekitar abad ke-20,
alat visual untuk mengkongkretkan ajaran ini dilengkapi dengan alat audio
sehingga kita kenal dengan adanya alat audio visual atau audio visual aids (AVA).
Bermacam
peralatan dapat digunakan oleh guru untuk menyampaika pesan ajaran kepada siswa
melalui pengelihatan dan pendengaran dan menghindari verbalisme. Yang kemudian
dipengaruhi oleh ajaran Edgar Dale yang dikenal dengan nama kerucut pengalaman
(cone of experience) dimana dalam hal ini usaha memanfaakan media
sebagai alat bantu pembelajaran diklasifikasikan dari tingkatan yang paling
kongkret ke yang paling abstrak.
Pada
akhir tahun 1950 teori komunikasi mempengaruhi alat bantu audio visual,
sehingga selain sebagai alat bantu media juga berfungsi sebagai penyalur pesan
atau informasi belajar.
Baru
pada tahun 1960-1965 orang mulai memperhatikan siswa sebagai komponen yang
penting dalam proses belajar mengajar. Pada satu itu teori tingkah laku
(behaviorism theory) ajaran B. F Skinner mulai mempengarui peggunaan media
dalam pembelajaranTeori ini mendorong diiciptakannya media yang dapat mengubah
tingkah laku siswa sebagai hasil proses pembelajaran. Media intruksional yang
tekenal adalah teaching machine dan programmed instruction.
Pada
tahun 1965-1970, pendekatan sistem (system approach) mulai menampakkan
pengaruhnya dalam kegiatan pendidikan dan pembelajaran. Pendekatan sistem ini
mendorong digunakannya media sebagai bagian integral dalam progra pembelajaran.
Setiap program pembelajaran harus direncanakan secara sistematis dengan
memusatka perhatian padda siswa. Program pembelajaran direncanakan berdasarkan
kebuuhan dan karakteristik siswa serta diarahkan kepada perubahan tingkah laku
siswa sesuai dengan tujuan yang akan dicapai.
Pengembangan Penggunan Media adalah sebagai berikut:
a.
Media Berbasis Visual
Visualisasi pesan,
informasi, atau konsep yang ingin di sampaikan kepada siswa dapat dikembangkan
dalam berbagai bentuk, seperti foto, gambar/illustrasi, sketsa/gambar garis.
Grafik, bagan, chart, dan gabungan dari dua bentuk atau lebih.
b.
Media Berbasis Audio Visual.
Media audio visual merupakan bentuk media pembelajaran
yang murah dan terjangkau. Sekali kita membeli tafe dan peralatan yang murah
dan terjangkau mak hampir tidak perlu lagi biaya tambahan, karena tife dapat
dihapus setelah digunakan dan pesan baru dapat diterima kembali. Media
audio menarik dan memotivasi siswa untuk mempelajari materi lebih banyak.
c.
Media Berbasis Komputer
Kemajuan media komputer memberikan beberapa kelebihan
untuk kegiatan produksi audio visual. Pada tahun-tahun belakangan komputer mendapat
perhatian besar karena kemampuannya yang dapat digunakan dalam bidang kegiatan
pembelajaran. Ditambah dengan teknologi jaringan dan internet, komputer seakan
menjadi primadona dalam kegiatan pembelajaran. Dibalik kehandalan komputer
sebagai media pembelajaran terdapat beberapa persoalan yang sebaiknya menjadi
bahan pertimbangan awal bagi pengelola pengajaran berbasis komputer
d.
Media Pembelajaran
Berbasis Edutainment
Pemakaian media pembelajaran dalam proses
belajar-mengajar dapat membangkitkan keinginan dan minat yang baru, dan
rangsangan kegiatan belajar dan bahkan membawa pengaruh-pengaruh psikologis
terhadap siswa. Penggunaan media pembelajaran pada tahap orientasi pembelajaran
akan sangat membantu keefektifan proses pembelajaran dan penyampaian pesan dan
isi pelajaran. Sejalan dengan perkembangan teknologi, komputer dapat digunakan
sebagai alat bantu pembelajaran. Komputer sebagai media pembelajaran
pemanfaatannya meliputi penyaji informasi, simulasi, latihan, dan permainan
belajar. Media pembelajaran yang sekiranya sesuai dengan era teknologi
informasi adalah media berbasis edutainment yang menggabungkan prinsip hiburan
dengan pendidikan. Harapannya, dengan adanya unsur hiburan, media berbasis
edutainment akan lebih disukai siswa dibanding software pembelajaran
biasa.Edutainment dirancang khusus untuk tujuan pendidikan yang penyajiannya
diramu dengan unsur-unsur hiburan sesuai dengan materinya. Masuknya komputer
dalam proses belajar mengajar dapat menciptakan suasana yang menyenangkan
karena siswa dapat mengatur kecepatan belajar sesuai dengan kemampuannya.
Gambar dan suara yang muncul membuat siswa tidak cepat bosan, sebaliknya justru
merangsang untuk mengetahui lebih jauh lagi. Dalam pengembangannya, media yang
berbasis edutainment diharapkan sesuai dengan karakteristik siswa seperti
tingkat kepandaian, kematangan, serta penguasaan materi prasyarat sehingga
mampu mengantarkan siswa untuk menguasai kompetensi-kompetensi dasar. Media
berbasis edutaintment yang dibuat diharapkan mampu meningkatkan kemampuan siswa
belajar mandiri dan memecahkan masalah. Di dalam penggunaan media ini, siswa
dapat menentukan sendiri apa yang hendak dilakukan. Dengan demikian siswa akan
belajar menganalisis, melihat permasalahan dan menemukan alternatif yang
merupakan langkah pemecahan masalah. Adanya pengambilan tindakan tersebut,
kemampuan siswa untuk memecahkan masalah akan meningkat.
B. Hasil setelah pembelajaran menggunakan media
Pada
hakikatnya bukan media pembelajaran itu sendiri yang menentukan hasil belajar.
Ternyata keberhasilan menggunakan media pembelajaran dalam proses pembelajaran
untuk meningkatkan hasil belajar tergantung pada (1) isi pesan, (2) cara
menjelaskan pesan, dan(3) karakteristik penerima pesan. Dengan demikian dalam
memilih dan menggunakan media, perlu diperhatikan ketiga faktor tersebut.
Apabila ketiga faktor tersebut mampu disampaikan dalam media pembelajaran tentunya
akan memberikan hasil yang maksimal. Hasil seteh menggunakan media memungkinkan timbulnya interaksi
edukatif yang efektif antara guru dan siswa, dan antara siswa dengan siswa. Hal
ini dapat mempengaruhi proses belajar mengajar menjadi lebih efektif dalam
segala aktivitas belajar.
Penggunaan media dalam proses belajar mengajar sangat
membantu kegiatan siswa belajar, oleh karena itu dapat disajikan pesan yang
diterima oleh siswa dengan menggunakan sebanyak mungkin alat indra yang
dimiliki. Untuk itulah maka seorang guru harus berusaha agar materi pelajaran
yang disajikan, dapat dimengerti dengan mudah oleh siswa dengan melibatkan
sejumlah alat indranya.
Menurut Edgar Dale yang dikutip oleh Jhon D; Latuheru
bahwa: “Pengalaman belajar manusia 75% diperoleh melalui indra pendengaran dan
selebihnya melalui indra lainnya.
Penyajian pesan pada era
informasi ini akan selalu menggunakan media, baik elektronik maupun non
elektronik. Terkait dengan kehadiran media ini, Dimyati (1996) menjelaskan
bahwa suatu media yang terorganisasi secara rapi mempengaruhi secara sistematis
lembaga-lembaga pendidikan seperti lembaga keluarga, agama, sekolah, dan
pramuka. Dari uraian tesebut menunjukkan bahwa kehadiran media telah
mempengaruhi seluruh aspek kehidupan, termasuk sistem pendidikan kita, meskipun
dalam derajat yang berbeda-beda.
Dengan demikian hasil belajar
seseorang ditentukan oleh berbagai faktor yang mempengaruhinya. Salah satu
faktor yang ada di luar individu adalah tersedianya media pembelajaran yang
memberi kemudahan bagi individu untuk mempelajari materi pembelajaran, sehingga
menghasilkan belajar yang lebih baik. Selain itu juga gaya belajar atau
learning style merupakan suatu karakteristik kognitif, afektif dan perilaku
psikomotoris, sebagai indikator yang bertindak yang relatif stabil bagi
pembelajar yang merasa saling berhubungan dan bereaksi terhadap lingkungan
belajar.
Selanjutnya hasil belajar digambarkan sebagai tingkat penguasaan siswa
terhadap sasaran belajar pada topik bahasan yang dieksperimenkan, yang diukur
berdasarkan pada jumlah skor jawaban benar pada soal yang disusun sesuai dengan
sasaran belajar. Selain itu, hasil belajar juga dilihat dari perubahan
perilaku siswa dengan perilakunya sebelumnya.
Ada beberapa manfaat/hasil yang
diperoleh dari penggunaan media pembelajaran antara lain :
1.
Interaksi dalam pembelajaran menjadi lancar. Dalam hal ini keberadaan media
merupakan medium antara pesan dengan siswa, antara guru dengan siswa. Dengan
demikian kehadiran media akan meningkatkan kualitas interaksi, baik itu
interaksi guru dengan siswa , maupun interaksi siswa dengan siswa atau siswa
dengan pesan, yang pada gilirannya akan membantu siswa belajar secara optimal.
2.
Proses
belajar menjadi lebih menarik. Dengan media pembelajaran dapat membangkitkan
keingintahuan siswa, merangsang siswa untuk bereaksi terhadap penjelasan guru,
memungkinkan mereka menyentuk objek pelajaran, dan membantu mengkongkritkan
sesuatu yang abstrak
3.
Pengelolaan
pembelajaran lebih efektif dan efisien. Dengan adanya media pembelajaran,
guru dapat terbantu untuk tidak perlu banyak menulis atau menggambar dipapan
tulis. Gambar dan tulisan yang dibutuhkan dapat diperoleh melalui fasilitas
komputer, atau guru dapat memanfaatkan benda-benda yang ada di lingkungan
sekolah.
4.
Kualitas belajar siswa meningkat.
Penggunaan media pembelajaran secara benar tidak hanya membuat proses
pembelajaran menjadi lebih efisien tetapi juga dapat membantu siswa menyerap
materi pelajaran lebih dalam dan utuh. Hal ini tentunya akan meningkatkan
kualitas belajar siswa secara menyeluruh.
5.
Proses
pembelajaran dapat dilakukan dimana dan kapan saja sesuai dengan kondisi guru
dan siswa.
6.
Timbul sikap positif siswa terhadap
proses pembelajaran. Penggunaan media yang dirancang sesuai dengan kebutuhan
belajar siswa dapat menimbulkan sikap positif siswa terhadap proses
pembelajaran. Hal ini terjadi karena media dapat menyajikan pesan dengan
konkrit disertai dengan contoh-contoh yang dapat meyakinkan siswa akan
kebenaran suatu ilmu pengetahuan yang dipelajari.
Banyak
hasil penelitian menunjukkan bahwa proses pendidikan akan lebih berhasil bila
anak turut aktif dalam proses pendidikan tersebut. Dengan perkataan lain,
yangmenjadi pusat kegiatan dalam kegiatan pendidikan bukanlah guru melainkan
anak. Hal ini mengandung pengertian
perlunya berbagai fasilitas belajar, termasuk media pendidikan. Berikut bukti-buktinya:
Dari hasil temuan penelitian tersebut dapat diketahui bahwa
pengetahuan seseorang paling banyak diperoleh secara visual atau melalui indera
penglihatan. Dengan demikian, penggunaan media yang dapat dilihat (visual)
dalam kegiatan pendidikan untuk anak akan lebih menguntungkan, sedangkan proses
pendidikan yang sebagian besar bahan ajar disampaikan secara verbal dengan
mengandalkan indera pendengaran tidak banyak menguntungkan dalam pencapaian
tujuan pendidikan.
2. Temuan penelitian lainnya menunjukkan bahwa pengetahuan yang dapat
diingat seseorang antara lain bergantung kepada, melalui indera apa ia
memperoleh pengetahuannya? Penelitian
ini melakukan tiga macam cara penyampaian informasi, yaitu secara auditori,
visual, dan audio-visual. Kemudian masing-masing kelompok yang menerima
informasi secara berbeda-beda dites daya ingatnya, yaitu berapa banyak
informasi yang masih diingat setelah 3 jam dan 3 hari. Gambar 3 dibawah ini
menunjukkan hasil penelitian mengenai hubungan antara jumlah pengetahuan yang
dapat diingat dengan jenis rangsangan terhadap inderanya. Gambar menunjukkan
hasil penelitian mengenai hubungan antara jumlah pengetahuan yang dapat diingat
dengan jenis rangsangan terhadap inderanya.
C. Tindak lanjut penggunaan media setelah lulus
Tindak lanjut
merupakan kegiatan menindak lanjuti hasil penggunaan media. Sebagai rangkaian
pelaksanaan evaluasi hasil belajar, tindak lanjut pada dasarnya berkenaan
dengan pembelajaran yang akan dilaksanakan selanjutnya berdasarkan hasil
evaluasi pembelajaran yang telah dilaksanakan dan berkenaan dengan pelaksanaan
evaluasi pemebelajaran itu sendiri. Tindak lanjut pembelajaran yang akan
dilaksanakan selanjutnya merupakan pelaksanaan keputusan tentang usaha
perbaikan pembelajaran yang akan dilaksanakan sebagai upaya peningkatan mutu
pembelajaran.
Tindak lanjut
penggunaan media setelah mahasiswa menamatkan kuliah (lulus) yakni media yang
dimiliki dapat diarsipkan atau disimpan untuk digunakan saat mengajar di
Sekolah Dasar. Sebagai seorang mahasiswa PGSD yang nantinya akan menegajar di
Sekolah Dasar, media pembelajaran menjadi hal yang penting untuk dimiliki dan
di kuasai. Karena dengan media, penyampaian materi kepada peserta didik akan
lebih mudah dan tingkat penyerapan materi juga akan lebih cepat.
Dengan menguasai
berbagai macam media pembelajaran , maka guru akan lebih variatif dalam
mengajar sehingga murid tidak bosan dengan metode yang digunakan guru dan akan
memperhatikan apa yang disampaikan oleh guru. Menguasai berbagai macam media
pembelajaran akan memudahkan guru saat mengajar di sekolah dasar.
D.
Tanggapan mahasiswa tentang penggunaan media
di SD Muhammadiyah 7 Bandung dan UPI
1.
Penggunaan Media di SD
Muhammadiyah Antapani Bandung
SD Muhammadiyah Antapani Bandung
merupakan sekolah dasar yang memiliki visi Terwujudnya
Lembaga Pendidikan Dasar dan Menengah Islami alternatif yang seimbang dalam
prestasi akademik, kreativitas dan spiritualitas. Sejak berdiri tahun 1987 SD Muhammadiyah
Antapani terus berusaha untuk meningkatkan kualitas pelayanan pendidikan dasar.
Sehingga dari tahun ke tahun SD Muhammadiyah terus mendapat kepercayaan dari
masyarakat. Hal tersebut salah satunya terlihat dengan digunakannya media yang
variatif dalam pembelajaran.
Dalam
proses observasi pada tanggal 20 April 2014, penulis mencoba masuk kedalam
kelas dan melihat secara langsung media apa saja yang di pergunakan dalam
proses pembelajaran. Media yang digunakan saat guru mengajar yakni dengan
menggunakan media power point dengan ditampilkan pada layar LCD. Selain hal
tersebut terdapat berbagai macam media grafis, baik yang berupa gambar, foto,
kartun, poster, papan flanel serta grafik yang terpajang di dinding kelas.
Selain dari yang tersebutkan diatas, terdapat pula media audio yang diletakkan
dalam laboratorium bahasa. Ketika keluar dari kelas nampak sekelompok siswa
sedang beramai-ramai membuat media IPA yakni dalam bentuk roket yang terbuat
dari botol air minum.
Sebagai
sekolah yang pada Tanggal 11 Nopember 2009 disahkan menjadi Rintisan Sekolah Bertaraf
Internasional (RSBI), penggunaan media dalam pembelajaran sudah cukup bervariatif
akan tetapi memang seharusnya lebih
ditingkatkan dan dikembangan. Selain itu sekolah juga harus lebih memacu agar
peserta didik mampu membuat media pembelajaran sendiri sekreatif mungkin agar
sesuai dengan visi yang diemban oleh sekolah.
2.
Penggunaan Media di
Universitas Pendidikan Indonesia
Universitas Pendidikan Indonesia
didirikan pada tanggal 20 Oktober 1954 di Bandung, diresmikan oleh Menteri
Pendidikan Pengajaran Mr. Muhammad Yamin. Semula bernama Perguruan Tinggi
Pendidikan Guru (PTPG), didirikan dengan latar belakang sejarah pertumbuhan
bangsa, yang menyadari bahwa upaya mendidik dan mencerdaskan bangsa merupakan
bagian penting dalam mengisi kemerdekaan. Beberapa alasan didirikannya PTPG
antara lain: Pertama, setelah Indonesia mencapai kemerdekaannya, bangsa
Indonesia sangat haus pendidikan. Kedua, perlunya disiapkan guru yang bermutu
dan bertaraf universitas untuk meningkatkan kualitas pendidikan yang akan
merintis terwujudnya masyarakat yang sejahtera.
UPI memiliki komitment yang kuat
untuk menjadikan ICT sebagai katalisator kemajuan pendidikan, terutama untuk
meningkatkan mutu pendidikan. Hal tersebut dapat dilihat dari renstra UPI, yang
memposisikan ICT sebagai sumber daya strategis untuk transformasi pendidikan.
Integrasi ICT dalam renatra UPI secara eksplisit dapat diuraikan sebagai
berikut : (1) Sasaran UPI pada renstra 2011-2015 yaitu “tercapainya predikat
universitas kelas dunia (diraihnya posisi 200 besar Asia versi QS Asian University Ranking,
posisi 8 besar di Indonesia pada ranking Webometrics; dan 3 bintang untuk
kategori QS Stars Rating). (2) Strategi UPI pada restra 2011-2015 diantaranya
“mendayagunakan teknologi informasi dan komunikasi dalam pembelajaran dan
sistem manajemen. (3) Program yang menunjang kebijakan UPI diantaranya
“Pengembangan pembelajaran berbasis ICT; (4) Pengembangan kultur akademik UPI
yang mentargetkan di tahun 2011-2015 diperoleh 90% pembelajaran sudah
memanfaatkan ICT.
Media pembelajaran
yang terdapat di Universitas Pendidikan Indonesia sudah mencangkup berbagai
pengembangan media seperti media berbasis visual, media berbasis audio visual,
media berbasis komputer dan media berbasis edutainment.
Beberapa jenis media yang lazim digunakan
dalam kegiatan belajar mengajar khususnya di Indonesia juga sudah terdapat di
Universitas Pendidikan Indonesia. Beberapa jenis media visual seperti gambar, foto, sketsa, diagram, diagram,
grafik, kartun, poster, papan flanel banyak ditemui di Universitas Pendidikan
Indonesia. Selain itu Universitas Pendidikan Indonesia memiliki berbagai media
audio seperti radio, alat perekam pita magnetik dan laboratorium bahasa.
Universitas Pendidikan Indonesia juga memiliki media yang berupa media proyeksi
diam seperti televisi, film dan video.
Media yang terdapat
di Universitas Pendidikan Indonesia kebanyakan sudah di sediakan dari pihak
kampus. Akan tetapi banyak pula media pembelajaran yang di buat oleh mahasiswa
Universitas Pendidikan Indonesia yang mereka simpan dalam Laboratorium, baik
laboratorium IPA, Matematika ataupun Laboratorium ke-SD an.
Di
dalam ruang laboratorium tersebut terdapat banyak sekali media pembelajaran,
terkhusus untuk mendukung mata pelajaran Matematika dan IPA. Mulai dari media pembelajaran berhitung,
bangun datar, bangun ruang, proses meletusnya gunung api dan lain sebagainya.
Pengadaan media-media tersebut dilakukan agar para peserta didik lebih mudah
untuk mendapatkan pengalaman belajar mereka. Selain itu, penataan berbagai
jenis media tersebut juga sangat diperhatikan. Media-media yang mayoritas
merupakan hasil dari kreativitas mahasiswa itu disusun dan ditata dengan rapi
agar tetap terjaga keberlangsungannya.
Sebagai univesitas
yang akan mencetak calon pendidik masa depan hendaknya selalu memacu
mahasiswanya agar senantias kreatif, inovatif dan variatif dalam pembuatan
media pembelajaran agar media yang dihasilkan dapat dimanfaatkan saat kegiatan
belajar mengajar ketika telah lulus dari Universitas Pendidikan Indonesia.
BAB IV
PENUTUP
A. Kesimpulan
1.
Pengembangan Penggunan Media adalah sebagai berikut:
a.
Media Berbasis Visual
Visualisasi pesan, informasi, atau konsep
yang ingin di sampaikan kepada siswa dapat dikembangkan dalam berbagai bentuk,
seperti foto, gambar/illustrasi, sketsa/gambar garis. Grafik, bagan, chart, dan
gabungan dari dua bentuk atau lebih.
b.
Media Berbasis Audio Visual.
Media audio visual merupakan bentuk media pembelajaran yang
murah dan terjangkau. Sekali kita membeli tafe dan peralatan yang murah dan
terjangkau mak hampir tidak perlu lagi biaya tambahan, karena tife dapat
dihapus setelah digunakan dan pesan baru dapat diterima kembali. Media
audio menarik dan memotivasi siswa untuk mempelajari materi lebih banyak.
c.
Media Berbasis Komputer
Kemajuan media komputer memberikan beberapa kelebihan untuk
kegiatan produksi audio visual. Pada tahun-tahun belakangan komputer mendapat
perhatian besar karena kemampuannya yang dapat digunakan dalam bidang kegiatan
pembelajaran.
d.
Media Pembelajaran Berbasis
Edutainment
Pemakaian media pembelajaran dalam proses
belajar-mengajar dapat membangkitkan keinginan dan minat yang baru, dan
rangsangan kegiatan belajar dan bahkan membawa pengaruh-pengaruh psikologis
terhadap siswa. Penggunaan media pembelajaran pada tahap orientasi pembelajaran
akan sangat membantu keefektifan proses pembelajaran dan penyampaian pesan dan
isi pelajaran.
2.
Hasil
Setelah penggunaan media adalah:
a.
Interaksi dalam pembelajaran menjadi lancar.
b.
Proses
belajar menjadi lebih menarik.
c.
Pengelolaan
pembelajaran lebih efektif dan efisien.
d.
Kualitas belajar siswa meningkat
e.
Proses
pembelajaran dapat dilakukan dimana dan kapan saja sesuai dengan kondisi guru
dan siswa.
f.
Timbul sikap positif siswa terhadap
proses pembelajaran.
3.
Tindak lanjut penggunaan media setelah lulus yakni media
yang dimiliki dapat diarsipkan atau disimpan untuk digunakan saat mengajar di
Sekolah Dasar.
4.
Penggunaan Media di SD Muhammadiyah Antapani Bandung
Media yang digunakan saat guru mengajar yakni
dengan menggunakan media power point dengan ditampilkan pada layar LCD. Selain
hal tersebut terdapat berbagai macam media grafis, baik yang berupa gambar,
foto, kartun, poster, papan flanel serta grafik yang terpajang di dinding
kelas. Selain dari yang tersebutkan diatas, terdapat pula media audio yang
diletakkan dalam laboratorium bahasa. Ketika keluar dari kelas nampak
sekelompok siswa sedang beramai-ramai membuat media IPA yakni dalam bentuk
roket yang terbuat dari botol air minum.
5.
Penggunaan Media di Universitas Pendidikan Indonesia
Media pembelajaran
yang terdapat di Universitas Pendidikan Indonesia sudah mencangkup berbagai
pengembangan media seperti media berbasis visual, media berbasis audio visual,
media berbasis komputer dan media berbasis edutainment.
Media yang terdapat di Universitas Pendidikan
Indonesia kebanyakan sudah di sediakan dari pihak kampus. Akan tetapi banyak
pula media pembelajaran yang di buat oleh mahasiswa Universitas Pendidikan
Indonesia yang mereka simpan dalam Laboratorium, baik laboratorium IPA,
Matematika ataupun Laboratorium ke-SD an.
B.
Saran
Pengguanaan media memang harus
benar – benar disesuaikan dengan kondisi baik materi, siswa, ketersediaan
media, keterjangkauan juga kemampuan penggunaan karena media yang tidak sesuai
akan menimbulkan kerancuan yang berakibat tidak tersampainya pesan kompetensi
yang disampaikan maka dari itu sehendaknya guru
harus mampu mengoprasiakan media yang telah dipilih sebagai media dalam
mengajar.
Sebagai calon guru , sudah
seharusnya kita mengenal dn mengetahui berbagai macam media yang dapat
digunakan dalam pembelajaran. Semakin bervariatif media yang kita miliki dan
kuasai, akan semakin banyak pilihan metode mengajar yang dapat diterapkan.
Jadilah guru yang menyenangkan dan jangan jadi guru yang membosankan.








Tidak ada komentar:
Posting Komentar