Selasa, 17 Juni 2014

LAPORAN KKL SD MUH 7 BANDUNG

laporan ini disusun untuk memenuhi tugas media pembelajaran semester 4 ....
BAB I
PENDAHULUAN
A.           Latar Belakang
Pada hakikatnya proses belajar mengajar adalah proses komunikasi. Kegiatan belajar mengajar di kelas merupakan suatu dunia komunikasi tersendiri dimana guru atau dosen dan siswa/mahasiswanya bertukar pikiran untuk mengembangkan ide dan pengertian. Dalam komunikasi sering timbul dan terjadi penyimpangan-penyimpangan sehingga komunikasi tersebut tidak efektif dan efisien, antara lain disebabkan oleh adanya  kecenderungan verbalisme, ketidaksiapan siswa/mahasiswa, kurangnya minat dan kegairahan, dan sebagainya.
Salah satu usaha untuk mengatasi keadaan demikian ialah penggunaan media secara terintegrasi dalam proses belajar mengajar, karena fungsi media dalam kegiatan tersebut disamping penyaji stimulus informasi, sikap, dan lain-lain, juga untuk meningkatkan keserasian dalam penerimaan informasi.
Guru bukanlah satu-satunya sumber belajar bagi siswa (teacher centered), tetapi yang lebih diharapkan adalah bahwa pembelajaran berpusat pada siswa (student centered). Dalam kondisi seperti ini, guru atau pengajar lebih banyak berfungsi sebagai fasilitator pembelajaran. Jadi, siswa atau pembelajar sebaiknya secara aktif berinteraksi dengan sumber belajar, berupa lingkungan. Lingkungan yang dimaksud (menurut Arsyad, 2002) adalah guru itu sendiri, siswa lain, kepala sekolah, petugas perpustakaan, bahan atau materi ajar (berupa buku, modul, selebaran, majalah, rekaman video, atau audio, dan yang sejenis), dan berbagai sumber belajar serta fasilitas (OHP, perekam pita audio dan video, radio, televisi, komputer, perpustakaan, laboratorium, pusat-pusat sumber belajar, termasuk alam sekitar). Berdasarkan deskripsi di atas, maka media adalah bagian yang sangat penting dan tidak terpisahkan dari proses pembelajaran, terutama untuk mencapai tujuan pembelajaran itu sendiri
Media pembelajaran adalah suatu bagian yang integral dari proses pembelajaran di kelas . Untuk mencapai hasil belajar yang maksimal, pembelajar harus mempunyai pengetahuan tentang pengelolaan media pembelajaran baik sebagai alat bantu pengajaran maupun sebagai pendukung agar materi  / isi pelajaran semakin jelas dan dengan mudah dapat dikuasai pebelajar.
Media merupakan salah satu sarana untuk meningkatkan kegiatan proses belajar mengajar. Karena beraneka ragamnya media tersebut, maka  masing-masing media mempunyai karakteristik yang berbeda-beda. Untuk itu perlu memilihnya dengan cermat dan tepat  agar dapat digunakan sacara tepat guna.
Atas dasar latar belakang diatas, maka penulis membuat laporan mengenai penggunaan media yang mana merupakan tindak lanjut dari kegiatan observasi yang penulis laksanakan di Universitas Pendikan Indonesia dan SD Muhammadiyah 7 Bandung.

B.            Rumusan Masalah
1.    Bagaimana Pengembangan penggunaan media dalam pendidikan?
2.    Bagaimana Hasil setelah pembelajaran menggunakan media?
3.    Bagaimana Tindak lanjut penggunaan media setelah lulus?
4.    Bagaimana Tanggapan mahasiswa tentang penggunaan media di SD Muhammadiyah 7 Bandung  dan UPI?

C.           Tujuan Penulisan
1.    Mengetahui Pengembangan penggunaan media
2.    Mengetahui Hasil setelah pembelajaran menggunakan media
3.    Mengetahui Tindak lanjut penggunaan media setelah lulus
4.    Mengetahui Tanggapan mahasiswa tentang penggunaan media di SD Muhammadiyah 7 Bandung dan UPI.

D.           Manfaat Observasi
1.      Dapat mengetahui perangkat dan media pembelajaran apa saja yang ada dan digunakan di UPI
2.       Dapat menambah ilmu dan wawasan kita mengenai perangkat pembelajaran
E.            Tempat dan Jadwal Observasi
a.         Tempat        : Universitas Pendidikan Indonesia  dan SD Muhammadiyah 7 Bandung
b.        Waktu         : Senin, 21 April 2014 

F.            Instrumen Observasi
Adapun Instrumen yang digunakan :
1.    Pengamatan
a.    Dengan Pengamatan Langsung
b.    Wawancara
2.    Alat Pengamatan
a.    Lembar Pengamatan
b.    Hasil Wawancara Siswa




BAB II
KAJIAN TEORI
A.      Definisi Media
Media adalah sebuah alat yang mempunyai fungsi menyampaikan pesan (Bovee, 1997). Media pembelajaran secara umum adalah alat bantu proses belajar mengajar. Pengertian media menurut beberapa ahli, diantaranya :
1. Menurut AECT (Assosiation for Educational Communication and Technology). Media merupakan segala bentuk dan saluran yang digunakan dalam proses penyampaian informasi (Azhar Arsyad, 2002:3)
2.  Menurut NEA ( National Educational Assosiation). Media adalah bentuk-bentuk komunikasi baik tercetak maupun audio visual serta peralatannya. Media hendaknya dapat dimanipulasi, dapat dilihat, didengar, dan di baca (Arif Sadiman , 2003:6 )
3.  Menurut P. Ely dan Vernon S. Gerlach. Media memiliki dua pengertian yaitu arti luas dan sempit. Menurut arti luas yaitu kegiatan yang dapat menciptakan kondisi, sehingga memungkinkan peserta didik dapat memperoleh pengetahuan, ketrampilan, dan sikap yang baru. Dan menurut arti sempit media berwujud grafik, foto, alat mekanik dan elektronik yang digunakan untuk menangkap, memproses, serta menyampaikan informasi. (Ahmad Rohani , 1997:2-3)
4.  Menurut Asnawir dan Basyiruddin dalam bukunya mendefinisikan media adalah suatu yang bersifat menyalurkan pesan dan dapat merangsang pikiran dan kemauan audiens (siswa) sehingga dapat mendorong terjadinya proses pendidikan (Asnawir, Basyiruddin, 2002:11)
 Media pembelajaran adalah sebuah alat yang berfungsi dan digunakan untuk menyampaikan pesan pembelajaran. Pembelajaran adalah proses komunikasi antara pembelajar, pengajar, dan bahan ajar. Substansi dari media pembelajaran adalah bentuk saluran, yang digunakan untuk menyalurkan pesan, informasi atau bahan pelajaran kepada penerima pesan atau pembelajar dapat pula dikatakan  bahwa media pembelajaran adalah berbagai jenis komponen dalam lingkungan dalam lingkungan pembelajar yang dapat merangsang pembelajar untuk belajar
Secara umum ada empat jenis media pembelajaran, yaitu :
1.      Media visual, yaitu jenis media yang digunakan hanya mengandalkan indera penglihatan peserta didik semata-mata, sehingga pengalaman belajar yang diterima peserta didik sangat tergantung pada kemampuan penglihatannya seperti buku, jurnal, poster, globe bumi, peta, foto, alam sekitar dan sebagainya.
2.      Meida audio adalah jenis media yang digunakan dalam proses pembelajaran dengan hanya melibatkan indera pendengaran peserta didik. Pengalaman belajar yang akan didapatkan adalah dengan mengandalkan indera kemampuan pendengaran. Contoh : radio, tape recorder, laboratorium bahasa, dan sejenisnya
3.      Media audio-visual, adalah jenis media yang digunakan dalam proses pembelajaran dengan melibatkan pendengaran dan penglihatan sekaligus dalam satu proses atau kegiatan. Pesan dan informasi yan dapat disalurkan melalui media ini dapat berupa pesan verbal dan nonverbal yang mengandalkan baik penglihatan maupun pendengaran
4.      Multimedia, yaitu media yang melibatkan jenis media untuk merangsang semua indera dalam satu kegiatan pembelajaran. Multimedia lebih ditekankan pada penggunaan berbagai medai berbasis TIK dan komputer

B.       Tujuan Penggunaan Media
Penggunaan media pengajaran sangat diperlukan dalam kaitannya dengan peningkatan mutu. Menurut Achsin (1986:17-18) menyatakan bahwa tujuan penggunaan media pengajaran adalah :
1.    Agar proses belajar mengajar yang sedang berlangsung dapat berjalan dengan tepat guna dan berdaya guna
2.    Untuk mempermudah bagi guru/pendidik daiam menyampaikan informasi materi kepada anak didik
3.    Untuk mempermudah bagi anak didik dalam menyerap atau menerima serta memahami materi yang telah disampaikan oleh guru/pendidik
4.    Untuk dapat mendorong keinginan anak didik untuk mengetahui lebih banyak dan mendalam tentang materi atau pesan yang disampaikan oleh guru/pendidik
5.    Untuk menghindarkan salah pengertian atau salah paham antara anak didik yang satu dengan yang lain terhadap materi atau pesan yang disampaikan oleh guru/pendidik.
Sedangkan Sudjana, dkk. (2002:2) menyatakan tentang tujuan pemanfaatan media adalah
1.    Pengajaran akan lebih menarik perhatian siswa sehingga dapat menimbulkan motivasi
2.    Bahan pelajaran akan lebih jelas maknanya sehingga dapat lebih dipahami
3.    Metode mengajar akan lebih bervariasi, dan
4.    Siswa akan lebih banyak melakukan kegiatan belajar.
Seorang guru dalam melaksanakan proses pembelajaran harus memiliki gagasan yang ditunjukan dalam desain pembelajaran, sebagai titik awal  dalam melaksanakan komunikasi dengan siswa. Karena itu, diperlukan pemahaman tentang unsur-unsur yang dapat menunjang proses komunikasi serta tujuan dari komunikasi.  Agar proses komunikasi pembelajaran berjalan secara efektif  dan efisien, guru perlu menggunakan media untuk merangsang siswa dalam belajar. Jadi pada prinsipnya media bermanfaat untuk menunjang proses pembelajaran, hal ini bukan saja membuat penyajian menjadi lebih konkrit, tetapi juga ada beberapa kegunaan yang lain.

C.      Landasan Penggunaan Media
1.         Landasan Psikologis
Landasan psikologis penggunaan media pembelajaran ialah alasan atau rasional mengapa media pembelajaran dipergunakan ditinjau dari kondisi belajar dan bagaimana proses belajar itu terjadi.Walaupun telah diketahui adanya pandangan yang berbeda tentang belajar dan bagaimana belajar itu terjadi, namun dapat dikatakan bahwa belajar itu adalah suatu proses yang mengakibatkan adanya perubahan perilaku oleh adanya pengalaman. Perubahan perilaku itu dapat berupa bertambahnya pengetahuan, diperolehnya keterampilan atau kecekatan dan berubahnya sikap seseorang yang telah belajar.  
Dengan memperhatikan kompleks dan uniknya proses belajar, maka ketepatan pemilihan media akan sangat berpengaruh terhadap hasil belajar siswa. Oleh sebab itu, pemakaian media dalam pendidikan sangat berkaitan dengan perkembangan psikologi belajar peserta didik. Pada hakikatnya, tujuan pendidikan, termasuk pengajaran adalah diperolehnya perubahan tingkah laku individu. Perubahan tingkah laku itu wujud dari hasil belajar.
Yang terpenting dalam proses belajar peserta didik dilihat dari psikologis tentunya adanya keinginan atau motivasi dan kebutuhan dari pesrta didik itu sendiri. Selain, keinginan yang kuat, motivasi dalam diri sendiri dan lingkunganya tentu akan menambah semangat peserta didik, serta dengan adanya kesadaran kebutuhan bahwa pendidikan dalam hidup itu diperlukan.
2.        Landasan Sosiologis
Pesatnya penggunaan teknologi di dalam dunia pendidikan pada tahun 1950-an dikarenakan timbulnya kepercayaan terhadaap ilmu pengetahuan sebagai cara untuk memperbaiki mutu kehidupan dan karena ledakan penduduk usia sekolah yang makin banyak. Tantangan tersebut segera memperoleh jawaban dari dunia perekonomian dengan menciptakan pelbagai perangkat keras sebagai bantuan teknologis yang dirancang untuk tujuan pengajaran yang lebih efektif serta ekonomis. 
Sekalipun demikian, timbul sedikit  keragu-raguan terhadap kemungkinan pendayagunaan dalam jangka panjang dari peralatan teknologi secara luas di kelas- kelas dan berbagai bentuk multimedia.
Dalam proses tersebut peranan komunikasi sangat penting, sebab hakikat teknologi pengajaran adalah upaya guru mempengaruhi siswa agar dapat mencapai tujuan penddikan . Oleh sebab itu, landasan sosial teknologi pengajaran ada pada komunikasi insani.
Berkomunikasi merupakan kegiatan manusia, sesuai dengan naluriahnya yang selalu ingin berhubungan satu sama lain, saling berinteraksi dan saling membutuhkan. Keinginan untuk berhubungan di antara sesamanya sesungguhnya merupakan naluri manusia yang ingin hidup berkelompok atau bermasyarakat. Dengan adanya naluri tersebut, maka komunikasi dapat dikatakan merupakan bagian hakiki dari kehidupanya yang senantiasa hidup bermasyarakat. Dengan kata lain, manusia akan kehilangan hakekatnya sebagai manusia bila ia tidak melakukan kegiatan komunikasi dengan sesamanya. 
Dalam Proses belajar pada hakekatnya adalah proses komunikasi, yaitu proses  penyampaian pesan dari sumber pesan melalui saluran atau media tertentu ke penerima pesan. Pesan, sumber pesan, saluran atau media dan penerima pesan adalah komponen komponen komunikasi. Pesan yang akan dikomunikasikan adalah isi ajaran atau didikan yang ada di kurikulum, sumber pesan bisa guru, peserta didik, orang lain atau penulis buku dan produser media, saluranya adalah media pendidikan dan penerima pesan adalah peserta didik atau juga guru.
3.        Landasan Teknologis
Sasaran akhir dari teknologi pembelajaran adalah memudahkan pebelajar untuk belajar. Untuk mencapai sasaran akhir ini, teknolog-teknolog di bidang pembelajaran mengembangkan berbagai sumber belajar untuk memenuhi kebutuhan setiap pebelajar sesuai dengan karakteristiknya.
Dalam upaya itu, teknolog berkerja mulai dari pengembangan dan pengujian teori-teori tentang berbagai media pembelajaran melalui penelitian ilmiah, dilanjutkan dengan pengembangan disainnya, produksi, evaluasi dan memilih media yang telah diproduksi, pembuatan katalog untuk memudahkan layanan penggunaannya, mengembangkan prosedur penggunaannya, dan akhirnya menggunakan baik pada tingkat kelas maupun pada tingkat yang lebih luas lagi (diseminasi).
Semua kegiatan ini dilakukan oleh para teknolog dengan berpijak pada prinsip bahwa suatu media hanya memiliki keunggulan dari media lainnya bila digunakan oleh pebelajar yang memiliki karakteristik sesuai dengan rangsangan yang ditimbulkan oleh media pembelajaran itu. Dengan demikian, proses belajar setiap pebelajar akan amat dimudahkan dengan hadirnya media pembelajaran yang sesuai dengan karakteristik belajarnya.
Media pembelajaran sebagai bagian dari teknologi pembelajaran memiliki enam manfaat potensial dalam memecahkan masalah pembelajaran, yaitu:
a.         Meningkatkan produktivitas pendidikan ( Can make education more productive).
Dengan media dapat meningkatkan produktivitas pendidikan antara lain dengan jalan mempercepat laju belajar siswa, membantu guru untuk menggunakan waktunya secara lebih baik dan mengurangi beban guru dalam menyajikan informasi, sehingga guru lebih banyak membina dan mengembangkan kegairahan belajar siswa.
b.         Memberikan kemungkinan pembelajaran yang sifatnya lebih individual (Can make education more individual).
Pembelajaran menjadi lebih bersifat individual antara lain dalam variasi cara belajar siswa, pengurangan kontrol guru dalam proses pembelajaran, dan memberikan kesempatan kepada siswa untuk berkembang sesuai dengan kemampuan dan kesempatan belajarnya.
c.         Memberikan dasar yang lebih ilmiah terhadap pembelajaran ( Can give instruction a more scientific base).
Artinya perencanaan program pembelajaran lebih sistematis, pengembangan bahan pembelajaran dilandasi oleh penelitian tentang karakteristik siswa, karakteristk bahan pembelajaran, analisis instruksional dan pengembangan disain pembelajaran dilakukan dengan serangkaian uji coba yang dapat dipertanggung jawabkan secara ilmiah.
d.        Lebih memantapkan pembelajaran (Make instruction more powerful).
Pembelajaran menjadi lebih mantap dengan jalan meningkatkan kapabilitas manusia menyerap informasi dengan melalui berbagai media komunikasi, di mana informasi dan data yang diterima lebih banyak,lengkap dan akurat
e.         Dengan media membuat proses pembelajaran menjadi lebih langsung/seketika (Can make learning more immediate).
Karena media mengatasi jurang pemisah antara pebelajar dan sumber belajar, dan meng-atasi keterbatasan manusia pada ruang dan waktu dalam memperoleh informasi, dapat menyajikan “kekongkritan” meskipun tidak secara langsung.
f.          Memungkinkan penyajian pembelajaran lebih merata dan meluas (Can make access to education more equal).

4.             Landasan Empirik
Berbagai temuan penelitian menunjukkan bahwa ada interaksi antara penggunaan media pembelajaran dan karakteristik pebelajar dalam menentukan hasil belajar siswa. Artinya bahwa pebelajar akan mendapat keuntungan yang signifikan bila ia belajar dengan menggunakan media yang sesuai dengan karakteristiknya. Pebelajar yang memiliki gaya visual akan lebih mendapat keuntungan dari penggunaan media visual, seperti film, video, gambar atau diagram; sedangkan pebelajar yang memiliki gaya belajar auditif lebih mendapatkan keuntungan dari penggunaan media pembelajaran auditif, seperti rekaman, radio, atau ceramah guru.
Atas dasar ini, maka prinsip penyesuaian jenis media yang akan digunakan dalam kegiatan pembelajaran dengan karakteristik individual pebelajar, menjadi semakin mantap. Pemilihan dan penggunaan media hendaknya jangan didasarkan pada kesukaan atau kesenangan guru, tetapi dilandaskan pada kecocokan media itu dengan karakteristik pebelajar, di samping sejumlah kriteria lain yang dijelaskan pada bagian lain buku ini.
5.             Landasan Filosofis
Ada suatu pandangan bahwa dengan digunakannya berbagai jenis media hasil teknologi baru di dalam kelas, akan berakibat proses pembelajaran yang kurang manusiawi. Dengan kata lain, penerapan teknologi dalam pembelajaran akan terjadi dehumanisasi. Bukankan dengan adanya berbagai media pembelajaran justru siswa dapat mempunyai banyak pilihan untuk digunakan media yang sesuai dengan karakteristik pribadinya? Dengan kata lain siswa dihargai harkat kemanusiaanya diberi kebebasan untuk menentukan pilhan, baik cara maupun alat belajar sesuai dengan kemampuannya. Dengan demikian, penerapan teknologi tidak berarti dehumanisasi. Sebenarnya perbedaan pendapat tersebut tidak perlu muncul, yang penting bagaimana pandangan guru terhadap siswa dalam proses pembelajaran. Jika guru menganggap siswa sebagai anak manusia yang memiliki keprbadian, harga diri, motivasi, dan memiliki kemampuan pribadi yang berbeda dengan yang lain,maka baik menggunakan media hasil teknologi baru atau tidak, proses pembelajaran yang dilakukan akan tetap menggunakan pendekatan humanis.
6.             Landasan Historis
Yang dimaksud dengan landasan historis media pembelajaran ialah rasional penggunaan media pembelajaran yang ditinjau dari sejarah konsep istilah media digunakan dalam pembelajaran. Untuk mengetahui latar belakang sejarah penggunaan konsep media pembelajaran marilah kita ikuti penjelasan berikut ini.
Perkembangan konsep media pembelajaran sebenarnya bermula dengan lahirnya konsepsi pengajaran visual atau alat bantu visual sekitar tahun 1923.Yang dimaksud dengan alat bantu visual dalam konsepsi pengajaran visual ini adalah setiap gambar, model, benda atau alat yang dapat memberikan pengalaman visual yang nyata kepada siswa.
Kemudian kosep pengajaran visual ini berkembang menjadi “audio visual instruction” atau “audio visual education” yaitu sekitar tahun 1940. Sekitar tahun 1945 timbul beberapa variasi nama seperti “audio visual materials”, “audio visual methods”, dan “audio visual devices”. Inti dari kosepsi ini adalah digunakannya berbagai alat atau bahan oleh guru untuk memindahkan gagasan dan pengalaman siswa melalui mata dan telinga. Pemanfaat-an konsepsi audio visual ini dapat dilihat dalam “Kerucut Pengalaman” dari Edgar Dale.
Perkembangan besar berikutnya adalah munculnya gerakan yang disebut “audio visual communication” pada tahun 1950-an.
Dengan diterapkannya konsep komunikasi dalam pembelajaran, penekanan tidak lagi diletakkan pada benda atau bahan yang berupa bahan audio visual untuk pembelajaran, tetapi dipusatkan pada keseluruhan proses komunikasi informasi atau pesan dari sumber (guru, materi atau bahan) kepada penerima (peserta didik). 



BAB III
PEMBAHASAN
A.      Pengembangan Penggunaan Media dalam Pendidikan
Menurut Dr. Arif Sadiman, M. Sc. dkk, perkembangan media pada mulanya media hanya dianggap sebagai alat bantu mengajar guru (teaching aids). Alat bantu yang dipakai adalah alat bantu visual, misalnya gambar, model, objek, dan alat-alat lain yang dapat memberikan pengalaman kongkret, motivasi belajar serta mempertinggi daya serap dan retensi belajar siswa. Namun sayang, karena terlalu memusatkan perhatian pada alat bantu visual yang dipakainya, orang kurang memperhatikan aspek desain, pengembangan pembelajaran, produksi dan evaluasinya. Dengan masuknya pengaruh teknologi audio pada sekitar abad ke-20, alat visual untuk mengkongkretkan ajaran ini dilengkapi dengan alat audio sehingga kita kenal dengan adanya alat audio visual atau audio visual aids (AVA).
Bermacam peralatan dapat digunakan oleh guru untuk menyampaika pesan ajaran kepada siswa melalui pengelihatan dan pendengaran dan menghindari verbalisme. Yang kemudian dipengaruhi oleh ajaran Edgar Dale yang dikenal dengan nama kerucut pengalaman (cone of experience) dimana dalam hal ini usaha memanfaakan media sebagai alat bantu pembelajaran diklasifikasikan dari tingkatan yang paling kongkret ke yang paling abstrak.
Pada akhir tahun 1950 teori komunikasi mempengaruhi alat bantu audio visual, sehingga selain sebagai alat bantu media juga berfungsi sebagai penyalur pesan atau informasi belajar.
Baru pada tahun 1960-1965 orang mulai memperhatikan siswa sebagai komponen yang penting dalam proses belajar mengajar. Pada satu itu teori tingkah laku (behaviorism theory) ajaran B. F Skinner mulai mempengarui peggunaan media dalam pembelajaranTeori ini mendorong diiciptakannya media yang dapat mengubah tingkah laku siswa sebagai hasil proses pembelajaran. Media intruksional yang tekenal adalah teaching machine dan programmed instruction.
Pada tahun 1965-1970, pendekatan sistem (system approach) mulai menampakkan pengaruhnya dalam kegiatan pendidikan dan pembelajaran. Pendekatan sistem ini mendorong digunakannya media sebagai bagian integral dalam progra pembelajaran. Setiap program pembelajaran harus direncanakan secara sistematis dengan memusatka perhatian padda siswa. Program pembelajaran direncanakan berdasarkan kebuuhan dan karakteristik siswa serta diarahkan kepada perubahan tingkah laku siswa sesuai dengan tujuan yang akan dicapai.
Pengembangan Penggunan Media adalah sebagai berikut:
a.         Media Berbasis Visual
Visualisasi pesan, informasi, atau konsep yang ingin di sampaikan kepada siswa dapat dikembangkan dalam berbagai bentuk, seperti foto, gambar/illustrasi, sketsa/gambar garis. Grafik, bagan, chart, dan gabungan dari dua bentuk atau lebih.
b.         Media Berbasis Audio Visual.
Media audio visual merupakan bentuk media pembelajaran yang murah dan terjangkau. Sekali kita membeli tafe dan peralatan yang murah dan terjangkau mak hampir tidak perlu lagi biaya tambahan, karena tife dapat dihapus setelah digunakan  dan pesan baru dapat diterima kembali. Media audio menarik dan memotivasi siswa untuk mempelajari materi lebih banyak.
c.         Media Berbasis Komputer
Kemajuan media komputer memberikan beberapa kelebihan untuk kegiatan produksi audio visual. Pada tahun-tahun belakangan komputer mendapat perhatian besar karena kemampuannya yang dapat digunakan dalam bidang kegiatan pembelajaran. Ditambah dengan teknologi jaringan dan internet, komputer seakan menjadi primadona dalam kegiatan pembelajaran. Dibalik kehandalan komputer sebagai media pembelajaran terdapat beberapa persoalan yang sebaiknya menjadi bahan pertimbangan awal bagi pengelola pengajaran berbasis komputer
d.        Media Pembelajaran Berbasis Edutainment
Pemakaian media pembelajaran dalam proses belajar-mengajar dapat membangkitkan keinginan dan minat yang baru, dan rangsangan kegiatan belajar dan bahkan membawa pengaruh-pengaruh psikologis terhadap siswa. Penggunaan media pembelajaran pada tahap orientasi pembelajaran akan sangat membantu keefektifan proses pembelajaran dan penyampaian pesan dan isi pelajaran. Sejalan dengan perkembangan teknologi, komputer dapat digunakan sebagai alat bantu pembelajaran. Komputer sebagai media pembelajaran pemanfaatannya meliputi penyaji informasi, simulasi, latihan, dan permainan belajar. Media pembelajaran yang sekiranya sesuai dengan era teknologi informasi adalah media berbasis edutainment yang menggabungkan prinsip hiburan dengan pendidikan. Harapannya, dengan adanya unsur hiburan, media berbasis edutainment akan lebih disukai siswa dibanding software pembelajaran biasa.Edutainment dirancang khusus untuk tujuan pendidikan yang penyajiannya diramu dengan unsur-unsur hiburan sesuai dengan materinya. Masuknya komputer dalam proses belajar mengajar dapat menciptakan suasana yang menyenangkan karena siswa dapat mengatur kecepatan belajar sesuai dengan kemampuannya. Gambar dan suara yang muncul membuat siswa tidak cepat bosan, sebaliknya justru merangsang untuk mengetahui lebih jauh lagi. Dalam pengembangannya, media yang berbasis edutainment diharapkan sesuai dengan karakteristik siswa seperti tingkat kepandaian, kematangan, serta penguasaan materi prasyarat sehingga mampu mengantarkan siswa untuk menguasai kompetensi-kompetensi dasar. Media berbasis edutaintment yang dibuat diharapkan mampu meningkatkan kemampuan siswa belajar mandiri dan memecahkan masalah. Di dalam penggunaan media ini, siswa dapat menentukan sendiri apa yang hendak dilakukan. Dengan demikian siswa akan belajar menganalisis, melihat permasalahan dan menemukan alternatif yang merupakan langkah pemecahan masalah. Adanya pengambilan tindakan tersebut, kemampuan siswa untuk memecahkan masalah akan meningkat.
B.       Hasil setelah pembelajaran menggunakan media
Pada hakikatnya bukan media pembelajaran itu sendiri yang menentukan hasil belajar. Ternyata keberhasilan menggunakan media pembelajaran dalam proses pembelajaran untuk meningkatkan hasil belajar tergantung pada (1) isi pesan, (2) cara menjelaskan pesan, dan(3) karakteristik penerima pesan. Dengan demikian dalam memilih dan menggunakan media, perlu diperhatikan ketiga faktor tersebut. Apabila ketiga faktor tersebut mampu disampaikan dalam media pembelajaran tentunya akan memberikan hasil yang maksimal. Hasil seteh menggunakan  media memungkinkan timbulnya interaksi edukatif yang efektif antara guru dan siswa, dan antara siswa dengan siswa. Hal ini dapat mempengaruhi proses belajar mengajar menjadi lebih efektif dalam segala aktivitas belajar.
Penggunaan media dalam proses belajar mengajar sangat membantu kegiatan siswa belajar, oleh karena itu dapat disajikan pesan yang diterima oleh siswa dengan menggunakan sebanyak mungkin alat indra yang dimiliki. Untuk itulah maka seorang guru harus berusaha agar materi pelajaran yang disajikan, dapat dimengerti dengan mudah oleh siswa dengan melibatkan sejumlah alat indranya.
Menurut Edgar Dale yang dikutip oleh Jhon D; Latuheru bahwa: “Pengalaman belajar manusia 75% diperoleh melalui indra pendengaran dan selebihnya melalui indra lainnya.
Penyajian pesan pada era informasi ini akan selalu menggunakan media, baik elektronik maupun non elektronik. Terkait dengan kehadiran media ini, Dimyati (1996) menjelaskan bahwa suatu media yang terorganisasi secara rapi mempengaruhi secara sistematis lembaga-lembaga pendidikan seperti lembaga keluarga, agama, sekolah, dan pramuka. Dari uraian tesebut menunjukkan bahwa kehadiran media telah mempengaruhi seluruh aspek kehidupan, termasuk sistem pendidikan kita, meskipun dalam derajat yang berbeda-beda.
Dengan demikian hasil belajar seseorang ditentukan oleh berbagai faktor yang mempengaruhinya. Salah satu faktor yang ada di luar individu adalah tersedianya media pembelajaran yang memberi kemudahan bagi individu untuk mempelajari materi pembelajaran, sehingga menghasilkan belajar yang lebih baik. Selain itu juga gaya belajar atau learning style merupakan suatu karakteristik kognitif, afektif dan perilaku psikomotoris, sebagai indikator yang bertindak yang relatif stabil bagi pembelajar yang merasa saling berhubungan dan bereaksi terhadap lingkungan belajar.
Selanjutnya hasil belajar digambarkan sebagai tingkat penguasaan siswa terhadap sasaran belajar pada topik bahasan yang dieksperimenkan, yang diukur berdasarkan pada jumlah skor jawaban benar pada soal yang disusun sesuai dengan sasaran belajar. Selain itu, hasil belajar juga dilihat dari perubahan perilaku siswa dengan perilakunya sebelumnya.
Ada beberapa manfaat/hasil yang diperoleh dari penggunaan media pembelajaran antara lain :   
1.      Interaksi dalam pembelajaran menjadi lancar. Dalam hal ini keberadaan media merupakan medium antara pesan dengan siswa, antara guru dengan siswa. Dengan demikian kehadiran media akan meningkatkan kualitas interaksi, baik itu interaksi guru dengan siswa , maupun interaksi siswa dengan siswa atau siswa dengan pesan, yang pada gilirannya akan membantu siswa belajar secara optimal.
2.      Proses belajar menjadi lebih menarik. Dengan media pembelajaran dapat membangkitkan keingintahuan siswa, merangsang siswa untuk bereaksi terhadap penjelasan guru, memungkinkan mereka menyentuk objek pelajaran, dan membantu mengkongkritkan sesuatu yang abstrak
3.      Pengelolaan pembelajaran lebih efektif dan efisien.  Dengan adanya media pembelajaran, guru dapat terbantu untuk tidak perlu banyak menulis atau menggambar dipapan tulis. Gambar dan tulisan yang dibutuhkan dapat diperoleh melalui fasilitas komputer, atau guru dapat memanfaatkan benda-benda yang  ada di lingkungan sekolah.
4.      Kualitas belajar siswa meningkat. Penggunaan media pembelajaran secara benar tidak hanya membuat proses pembelajaran menjadi lebih efisien tetapi juga dapat membantu siswa menyerap materi pelajaran lebih dalam dan utuh. Hal ini tentunya akan meningkatkan kualitas belajar siswa secara menyeluruh.
5.      Proses pembelajaran dapat dilakukan dimana dan kapan saja sesuai dengan kondisi guru dan siswa.
6.      Timbul sikap positif siswa terhadap proses pembelajaran. Penggunaan media yang dirancang sesuai dengan kebutuhan belajar siswa dapat menimbulkan sikap positif siswa terhadap proses pembelajaran. Hal ini terjadi karena media dapat menyajikan pesan dengan konkrit disertai dengan contoh-contoh yang dapat meyakinkan siswa akan kebenaran suatu ilmu pengetahuan yang dipelajari.
Banyak hasil penelitian menunjukkan bahwa proses pendidikan akan lebih berhasil bila anak turut aktif dalam proses pendidikan tersebut. Dengan perkataan lain, yangmenjadi pusat kegiatan dalam kegiatan pendidikan bukanlah guru melainkan anak. Hal ini mengandung pengertian perlunya berbagai fasilitas belajar, termasuk media pendidikan. Berikut bukti-buktinya:
Dari hasil temuan penelitian tersebut dapat diketahui bahwa pengetahuan seseorang paling banyak diperoleh secara visual atau melalui indera penglihatan. Dengan demikian, penggunaan media yang dapat dilihat (visual) dalam kegiatan pendidikan untuk anak akan lebih menguntungkan, sedangkan proses pendidikan yang sebagian besar bahan ajar disampaikan secara verbal dengan mengandalkan indera pendengaran tidak banyak menguntungkan dalam pencapaian tujuan pendidikan.
2.      Temuan penelitian lainnya menunjukkan bahwa pengetahuan yang dapat diingat seseorang antara lain bergantung kepada, melalui indera apa ia memperoleh pengetahuannya?  Penelitian ini melakukan tiga macam cara penyampaian informasi, yaitu secara auditori, visual, dan audio-visual. Kemudian masing-masing kelompok yang menerima informasi secara berbeda-beda dites daya ingatnya, yaitu berapa banyak informasi yang masih diingat setelah 3 jam dan 3 hari. Gambar 3 dibawah ini menunjukkan hasil penelitian mengenai hubungan antara jumlah pengetahuan yang dapat diingat dengan jenis rangsangan terhadap inderanya. Gambar menunjukkan hasil penelitian mengenai hubungan antara jumlah pengetahuan yang dapat diingat dengan jenis rangsangan terhadap inderanya.

C.      Tindak lanjut penggunaan media setelah lulus
Tindak lanjut merupakan kegiatan menindak lanjuti hasil penggunaan media. Sebagai rangkaian pelaksanaan evaluasi hasil belajar, tindak lanjut pada dasarnya berkenaan dengan pembelajaran yang akan dilaksanakan selanjutnya berdasarkan hasil evaluasi pembelajaran yang telah dilaksanakan dan berkenaan dengan pelaksanaan evaluasi pemebelajaran itu sendiri. Tindak lanjut pembelajaran yang akan dilaksanakan selanjutnya merupakan pelaksanaan keputusan tentang usaha perbaikan pembelajaran yang akan dilaksanakan sebagai upaya peningkatan mutu pembelajaran.
Tindak lanjut penggunaan media setelah mahasiswa menamatkan kuliah (lulus) yakni media yang dimiliki dapat diarsipkan atau disimpan untuk digunakan saat mengajar di Sekolah Dasar. Sebagai seorang mahasiswa PGSD yang nantinya akan menegajar di Sekolah Dasar, media pembelajaran menjadi hal yang penting untuk dimiliki dan di kuasai. Karena dengan media, penyampaian materi kepada peserta didik akan lebih mudah dan tingkat penyerapan materi juga akan lebih cepat.
Dengan menguasai berbagai macam media pembelajaran , maka guru akan lebih variatif dalam mengajar sehingga murid tidak bosan dengan metode yang digunakan guru dan akan memperhatikan apa yang disampaikan oleh guru. Menguasai berbagai macam media pembelajaran akan memudahkan guru saat mengajar di sekolah dasar.  

D.           Tanggapan mahasiswa tentang penggunaan media di SD Muhammadiyah 7 Bandung  dan UPI
1.         Penggunaan Media di SD Muhammadiyah Antapani Bandung
          SD Muhammadiyah Antapani Bandung merupakan sekolah dasar yang memiliki visi Terwujudnya Lembaga Pendidikan Dasar dan Menengah Islami alternatif yang seimbang dalam prestasi akademik, kreativitas dan spiritualitas. Sejak berdiri tahun 1987 SD Muhammadiyah Antapani terus berusaha untuk meningkatkan kualitas pelayanan pendidikan dasar. Sehingga dari tahun ke tahun SD Muhammadiyah terus mendapat kepercayaan dari masyarakat. Hal tersebut salah satunya terlihat dengan digunakannya media yang variatif dalam pembelajaran.
          Dalam proses observasi pada tanggal 20 April 2014, penulis mencoba masuk kedalam kelas dan melihat secara langsung media apa saja yang di pergunakan dalam proses pembelajaran. Media yang digunakan saat guru mengajar yakni dengan menggunakan media power point dengan ditampilkan pada layar LCD. Selain hal tersebut terdapat berbagai macam media grafis, baik yang berupa gambar, foto, kartun, poster, papan flanel serta grafik yang terpajang di dinding kelas. Selain dari yang tersebutkan diatas, terdapat pula media audio yang diletakkan dalam laboratorium bahasa. Ketika keluar dari kelas nampak sekelompok siswa sedang beramai-ramai membuat media IPA yakni dalam bentuk roket yang terbuat dari botol air minum.
          Sebagai sekolah yang pada Tanggal 11 Nopember 2009 disahkan  menjadi Rintisan Sekolah Bertaraf Internasional (RSBI), penggunaan media dalam pembelajaran sudah cukup bervariatif akan tetapi  memang seharusnya lebih ditingkatkan dan dikembangan. Selain itu sekolah juga harus lebih memacu agar peserta didik mampu membuat media pembelajaran sendiri sekreatif mungkin agar sesuai dengan visi yang diemban oleh sekolah.
2.        Penggunaan Media di Universitas Pendidikan Indonesia
Universitas Pendidikan Indonesia didirikan pada tanggal 20 Oktober 1954 di Bandung, diresmikan oleh Menteri Pendidikan Pengajaran Mr. Muhammad Yamin. Semula bernama Perguruan Tinggi Pendidikan Guru (PTPG), didirikan dengan latar belakang sejarah pertumbuhan bangsa, yang menyadari bahwa upaya mendidik dan mencerdaskan bangsa merupakan bagian penting dalam mengisi kemerdekaan. Beberapa alasan didirikannya PTPG antara lain: Pertama, setelah Indonesia mencapai kemerdekaannya, bangsa Indonesia sangat haus pendidikan. Kedua, perlunya disiapkan guru yang bermutu dan bertaraf universitas untuk meningkatkan kualitas pendidikan yang akan merintis terwujudnya masyarakat yang sejahtera.
UPI memiliki komitment yang kuat untuk menjadikan ICT sebagai katalisator kemajuan pendidikan, terutama untuk meningkatkan mutu pendidikan. Hal tersebut dapat dilihat dari renstra UPI, yang memposisikan ICT sebagai sumber daya strategis untuk transformasi pendidikan. Integrasi ICT dalam renatra UPI secara eksplisit dapat diuraikan sebagai berikut : (1) Sasaran UPI pada renstra 2011-2015 yaitu “tercapainya predikat universitas kelas dunia (diraihnya posisi 200 besar Asia versi QS Asian University Ranking, posisi 8 besar di Indonesia pada ranking Webometrics; dan 3 bintang untuk kategori QS Stars Rating). (2) Strategi UPI pada restra 2011-2015 diantaranya “mendayagunakan teknologi informasi dan komunikasi dalam pembelajaran dan sistem manajemen. (3) Program yang menunjang kebijakan UPI diantaranya “Pengembangan pembelajaran berbasis ICT; (4) Pengembangan kultur akademik UPI yang mentargetkan di tahun 2011-2015 diperoleh 90% pembelajaran sudah memanfaatkan ICT.
Media pembelajaran yang terdapat di Universitas Pendidikan Indonesia sudah mencangkup berbagai pengembangan media seperti media berbasis visual, media berbasis audio visual, media berbasis komputer dan media berbasis edutainment.
  Beberapa jenis media yang lazim digunakan dalam kegiatan belajar mengajar khususnya di Indonesia juga sudah terdapat di Universitas Pendidikan Indonesia. Beberapa jenis media visual seperti  gambar, foto, sketsa, diagram, diagram, grafik, kartun, poster, papan flanel banyak ditemui di Universitas Pendidikan Indonesia. Selain itu Universitas Pendidikan Indonesia memiliki berbagai media audio seperti radio, alat perekam pita magnetik dan laboratorium bahasa. Universitas Pendidikan Indonesia juga memiliki media yang berupa media proyeksi diam seperti televisi, film dan video.
Media yang terdapat di Universitas Pendidikan Indonesia kebanyakan sudah di sediakan dari pihak kampus. Akan tetapi banyak pula media pembelajaran yang di buat oleh mahasiswa Universitas Pendidikan Indonesia yang mereka simpan dalam Laboratorium, baik laboratorium IPA, Matematika ataupun Laboratorium ke-SD an.
Di dalam ruang laboratorium tersebut terdapat banyak sekali media pembelajaran, terkhusus untuk mendukung mata pelajaran Matematika dan IPA.  Mulai dari media pembelajaran berhitung, bangun datar, bangun ruang, proses meletusnya gunung api dan lain sebagainya. Pengadaan media-media tersebut dilakukan agar para peserta didik lebih mudah untuk mendapatkan pengalaman belajar mereka. Selain itu, penataan berbagai jenis media tersebut juga sangat diperhatikan. Media-media yang mayoritas merupakan hasil dari kreativitas mahasiswa itu disusun dan ditata dengan rapi agar tetap terjaga keberlangsungannya.
Sebagai univesitas yang akan mencetak calon pendidik masa depan hendaknya selalu memacu mahasiswanya agar senantias kreatif, inovatif dan variatif dalam pembuatan media pembelajaran agar media yang dihasilkan dapat dimanfaatkan saat kegiatan belajar mengajar ketika telah lulus dari Universitas Pendidikan  Indonesia.




BAB IV
PENUTUP
A.    Kesimpulan
1.         Pengembangan Penggunan Media adalah sebagai berikut:
a.    Media Berbasis Visual
     Visualisasi pesan, informasi, atau konsep yang ingin di sampaikan kepada siswa dapat dikembangkan dalam berbagai bentuk, seperti foto, gambar/illustrasi, sketsa/gambar garis. Grafik, bagan, chart, dan gabungan dari dua bentuk atau lebih.
b.    Media Berbasis Audio Visual.
     Media audio visual merupakan bentuk media pembelajaran yang murah dan terjangkau. Sekali kita membeli tafe dan peralatan yang murah dan terjangkau mak hampir tidak perlu lagi biaya tambahan, karena tife dapat dihapus setelah digunakan  dan pesan baru dapat diterima kembali. Media audio menarik dan memotivasi siswa untuk mempelajari materi lebih banyak.
c.    Media Berbasis Komputer
     Kemajuan media komputer memberikan beberapa kelebihan untuk kegiatan produksi audio visual. Pada tahun-tahun belakangan komputer mendapat perhatian besar karena kemampuannya yang dapat digunakan dalam bidang kegiatan pembelajaran.
d.   Media Pembelajaran Berbasis Edutainment
Pemakaian media pembelajaran dalam proses belajar-mengajar dapat membangkitkan keinginan dan minat yang baru, dan rangsangan kegiatan belajar dan bahkan membawa pengaruh-pengaruh psikologis terhadap siswa. Penggunaan media pembelajaran pada tahap orientasi pembelajaran akan sangat membantu keefektifan proses pembelajaran dan penyampaian pesan dan isi pelajaran.
2.             Hasil Setelah penggunaan media adalah:
a.         Interaksi dalam pembelajaran menjadi lancar.
b.        Proses belajar menjadi lebih menarik.
c.         Pengelolaan pembelajaran lebih efektif dan efisien.
d.        Kualitas belajar siswa meningkat
e.         Proses pembelajaran dapat dilakukan dimana dan kapan                                    saja sesuai dengan kondisi guru dan siswa.
f.         Timbul sikap positif siswa terhadap proses pembelajaran.
3.             Tindak lanjut penggunaan media setelah lulus yakni media yang dimiliki dapat diarsipkan atau disimpan untuk digunakan saat mengajar di Sekolah Dasar.
4.             Penggunaan Media di SD Muhammadiyah Antapani Bandung
Media yang digunakan saat guru mengajar yakni dengan menggunakan media power point dengan ditampilkan pada layar LCD. Selain hal tersebut terdapat berbagai macam media grafis, baik yang berupa gambar, foto, kartun, poster, papan flanel serta grafik yang terpajang di dinding kelas. Selain dari yang tersebutkan diatas, terdapat pula media audio yang diletakkan dalam laboratorium bahasa. Ketika keluar dari kelas nampak sekelompok siswa sedang beramai-ramai membuat media IPA yakni dalam bentuk roket yang terbuat dari botol air minum.
5.        Penggunaan Media di Universitas Pendidikan Indonesia
Media pembelajaran yang terdapat di Universitas Pendidikan Indonesia sudah mencangkup berbagai pengembangan media seperti media berbasis visual, media berbasis audio visual, media berbasis komputer dan media berbasis edutainment.
Media yang terdapat di Universitas Pendidikan Indonesia kebanyakan sudah di sediakan dari pihak kampus. Akan tetapi banyak pula media pembelajaran yang di buat oleh mahasiswa Universitas Pendidikan Indonesia yang mereka simpan dalam Laboratorium, baik laboratorium IPA, Matematika ataupun Laboratorium ke-SD an.



B.            Saran
Pengguanaan media memang harus benar – benar disesuaikan dengan kondisi baik materi, siswa, ketersediaan media, keterjangkauan juga kemampuan penggunaan karena media yang tidak sesuai akan menimbulkan kerancuan yang berakibat tidak tersampainya pesan kompetensi yang disampaikan maka dari itu sehendaknya guru  harus mampu mengoprasiakan media yang telah dipilih sebagai media dalam mengajar.
Sebagai calon guru , sudah seharusnya kita mengenal dn mengetahui berbagai macam media yang dapat digunakan dalam pembelajaran. Semakin bervariatif media yang kita miliki dan kuasai, akan semakin banyak pilihan metode mengajar yang dapat diterapkan. Jadilah guru yang menyenangkan dan jangan jadi guru yang membosankan.




















Tidak ada komentar:

Posting Komentar